KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar tasyakuran HUT ke-22 Taruna Siaga Bencana (Tagana) bersama para relawan dan pilar sosial di Gedung Negara Grahadi pada Selasa, 24 Maret 2026.
Acara ini untuk memperkuat komitmen kemanusiaan sekaligus meningkatkan soliditas dan kapasitas relawan sebagai garda terdepan penanganan bencana di Jawa Timur.
Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, kegiatan diisi dengan silaturahmi dan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur sekaligus apresiasi atas peran Tagana dalam berbagai tahapan kebencanaan.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa Tagana merupakan frontliner yang memiliki soliditas, kepemimpinan, dan kemampuan multi-skill dalam penanganan bencana, mulai dari evakuasi hingga pascabencana. Momentum peringatan ini menjadi ajang memperteguh dedikasi relawan yang senantiasa hadir membantu masyarakat.
“Tentu Tagana ini frontliner bagi proses untuk menangani kebencanaan. Dan luar biasa, mereka membangun kekompakan, soliditas dan leadership di antara mereka itu luar biasa,” ujar Khofifah.
Secara khusus, Khofifah juga menyampaikan kedekatan historisnya dengan Tagana. Saat menjabat Menteri Sosial RI, ia menjadi Pembina Tagana Nasional dan kini melanjutkan peran tersebut di tingkat provinsi.
“Dulu di tingkat nasional saya minta enam jam sampai lokasi bencana, sekarang saya minta satu jam sampai di lokasi. Mereka ini dari mulai proses evakuasi, dapur umum, baik itu proses untuk tanggap darurat maupun pascabencana. Tagana ini multi-skill,” ujarnya.
Ia juga menggambarkan pengorbanan para relawan yang selalu siap siaga kapan pun dibutuhkan. Menurutnya, seragam Tagana bukan sekadar pakaian lapangan, melainkan simbol kebanggaan dan identitas pengabdian.
“Banyak di antara kawan-kawan Tagana yang baju Tagananya itu ada di bawah motor mereka. Bahkan ada yang harusnya menjemput anak sekolah, tetapi karena ada laporan longsor langsung menuju lokasi untuk membantu evakuasi,” tuturnya.
Menghadapi kondisi geografis Indonesia, khususnya Jawa Timur yang berada di kawasan ring of fire, Khofifah menekankan pentingnya penguatan mitigasi melalui peningkatan kapasitas dan sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara Tagana dengan berbagai instansi seperti BPBD, Basarnas, dan BNPB dinilai harus terus diperkuat melalui pelatihan berjenjang dan pembaruan kompetensi secara berkelanjutan.
“Kewaspadaan harus dilakukan dengan membangun sinergi. Mitigasi juga harus dilakukan. Maka pelatihan Tagana harus terus diperbarui sesuai potensi bencana yang ada. Itu menjadi bagian yang sangat penting,” ungkapnya.
Namun demikian, Khofifah juga mengakui adanya tantangan, terutama keterbatasan anggaran pelatihan dan kebutuhan regenerasi relawan. Hal ini seiring dengan adanya sebagian relawan yang kini mendedikasikan diri pada program sosial lainnya.
“Ada sekitar 400 anggota Tagana yang kini bertugas di sekolah rakyat. Ini juga penting, tetapi konsekuensinya kita harus melakukan rekrutmen dan pelatihan dalam skala besar, karena prosesnya berjenjang dan tidak bisa sembarangan,” jelasnya.
Untuk itu, Khofifah berharap seluruh elemen masyarakat, khususnya pemerintah kabupaten/kota, dapat turut memperkuat keberadaan Tagana di daerah masing-masing.
“Terima kasih atas dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan seluruh tim Tagana. Jaga terus soliditas dan kekompakan sebagai kekuatan utama dalam melayani masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Tagana Jawa Timur, Twiadi, menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Khofifah atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada seluruh relawan Tagana.
“Terima kasih kepada Ibu Gubernur yang telah mengundang kami merayakan HUT Tagana di Grahadi. Kami merasakan kepedulian yang besar, dan ini semakin memotivasi kami untuk terus hadir membantu masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Tagana akan terus meningkatkan kompetensi, mulai dari manajemen dapur umum, logistik, pengungsian hingga layanan dukungan sosial guna memastikan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Kami juga berkomitmen mempertahankan Jawa Timur sebagai barometer Tagana nasional melalui berbagai program pemberdayaan dan pemulihan, seperti dapur kreasi yang melibatkan penyintas bencana dan telah diakui secara nasional,” pungkasnya. (*)
