KETIK, MALANG – Sebagai kota pelajar, Malang memiliki sejumlah ruang literasi. Salah satunya adalah Rumah Budaya Ratna.
Bangunan yang berada di Jalan Diponegoro No. 3, Klojen, Malang, ini dahulu merupakan kediaman sastrawan dan penulis Ratna Indraswari Ibrahim. Sepeninggal Ratna pada 28 Maret 2011, rumah yang dulunya kerap dijadikan tempat diskusi dan pertemuan para aktivis serta budayawan itu sempat sepi.
Rumah tersebut kembali mendapatkan jiwanya setelah pada 24 Agustus 2024 dialihfungsikan menjadi ruang literasi, seni, sekaligus tempat berkumpulnya komunitas-komunitas di Kota Malang. Konsep yang diusung adalah kafe perpustakaan.
Gagasan kafe ini muncul ketika adik kandung Ratna, Benny Ibrahim, kembali ke rumah pada 2023. Saat itu ia bertemu sejumlah aktivis seni dan komunitas. Tak lama kemudian datang pula kerabat Ratna bernama Abdul Malik.
Abdul Malik mengajak Benny untuk menghidupkan kembali suasana Rumah Ratna dengan menjadikannya tempat berkumpul para pegiat budaya. Benny menyetujui gagasan tersebut dan kemudian memutuskan untuk memadukan perpustakaan dengan konsep kafe.
“Bu Ratna punya koleksi buku. Kita buat perpustakaan, tapi di luar konsep perpustakaan pada umumnya. Maka terbentuklah ide perpustakaan dengan konsep kafe,” kata Benny.
Tujuannya sederhana: memperkenalkan literasi kepada anak muda—khususnya generasi Z—sekaligus membuka ruang pertemuan komunitas.
Pada pekan-pekan pertama, kafe ini masih sepi. Namun, beberapa minggu berikutnya pengunjung mulai ramai. Menariknya, mayoritas yang datang justru anak-anak muda dan mahasiswa. Mereka membaca, mengerjakan tugas, berdiskusi, membuat konten, hingga berfoto.
Tipikal pengunjung Rumah Budaya Ratna hampir selalu mendokumentasikan pengalamannya dan membagikannya ke media sosial. Dari situlah nama Rumah Budaya Ratna makin dikenal.
Benny menegaskan bahwa pengelolaan kafe ini bersifat non-profit.
“Pembuatan kafe ini saya datangkan beberapa teman dari Jakarta, dan ini murni non-profit. Dana pembuatan serta konsep berasal dari teman-teman saya di Jakarta, dan tidak ada sama sekali bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan kafe juga menjadi penopang biaya operasional, mulai dari internet, listrik, hingga pembelian buku baru.
“Ini bukan untuk pribadi, tapi untuk mereka yang hadir di sini. Keuntungan kami tipis, ditambah belum adanya dukungan pemerintah atas apa yang kami kerjakan. Banyak proposal sudah kami kirim, tetapi belum ada balasan sampai sekarang,” tambahnya.
Kini Rumah Budaya Ratna menjadi meeting point bagi budayawan, seniman, dan komunitas lintas latar belakang. Tempat ini juga menjadi “safe place” bagi anak muda untuk berdiskusi, membaca, atau sekadar beristirahat dari rutinitas.
Harga minuman yang disajikan pun terjangkau, berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Dengan nominal tersebut, pengunjung dapat menikmati suasana perpustakaan mini bergaya rumahan dengan desain estetik dan hangat. Tempat ini menjadi alternatif bagi anak muda untuk menghabiskan waktu, membaca, mengerjakan skripsi, maupun berswafoto. (*)
