Puluhan Tahun Tak Pernah Pulang Kampung, Wandi Perantau Asal Tuban Setia Menjaga Pesantren saat Lebaran

15 Maret 2026 12:52 15 Mar 2026 12:52

Thumbnail Puluhan Tahun Tak Pernah Pulang Kampung, Wandi Perantau Asal Tuban Setia Menjaga Pesantren saat Lebaran

Sosok Pak Wandi penjaga keamanan di Pesantren Luhur Alhusna Surabaya. ( Foto: Muhammad Roihan / ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Tradisi pulang kampung menjelang hari raya Idulfitri merupakan suatu hal di nanti-nantikan oleh semua orang, terutama bagi para perantau ingin merayakan momen tersebut bersama keluarga di rumah.

Hal ini berbeda dengan kisah Pak Wandi seorang penjaga keamanan pondok di Pesantren Luhur Alhusna Surabaya, ia justru memilih menjaga lingkungan pondok agar barang-barang milik para santri tetap aman selama masa libur Lebaran.

Bagi Pak Wandi, Merayakan hari Lebaran di pondok sudah menjadi kebiasaan yang ia rasakan, jauh dari keluarga dan Ia mengaku merasa lebih tenang berada di lingkungan pesantren, karena bisa membantu menjaga keamanan.

“Wes enak nang kene ae,” (Sudah enak disini saja), ujarnya.

Pria asal Tuban itu telah merantau sejak tahun 1970-an. ia lebih memilih mengabdikan diri di lingkungan pesantren dan hampir tidak pernah kembali untuk merayakan Lebaran bersama keluarga sekaligus lebih memilih mengabdikan diri di lingkungan pesantren.

Sebelum berada di lingkungan pesantren, ia sempat bekerja di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya sebagai tukang bantu-bantu proyek pada tahun 1970-an. Berawal dari sini, ia mulai mengenal sosok Abah Ali Maschan Moesa, pengasuh Pesantren Luhur Alhusna Surabaya.

Sejak kecil ia telah terbiasa menjalani hidup secara mandiri. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia, Rumah kakeknya yang dulu menjadi tempat tinggalnya kini telah dikontrakkan kepada orang lain, dan saudara-saudaranya telah berpencar di berbagai daerah.

Ia pernah membangun rumah tangga dikaruniai 1 orang anak, akan tetapi, karena adannya konflik dalam keluarga, rumah tanggannya hanya bertahan 2 tahun dan ia berpisah dengan istrinya, sementara anaknya tinggal bersama ibunya pada waktu itu. Hal ini menjadi alasan mengapa ia tidak pernah merayakan Lebaran di kampung halamannya.

Pada tahun 2001, Pak Wandi secara resmi meninggalkan pekerjaannya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan memulai pekerjaan barunya di Pondok Pesantren Luhur Alhusna Surabaya bersama Abah Ali Maschan Moesa. 

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat Pak Wandi merasa memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga pondok setiap Lebaran, hal ini menjadi sebuah amanah untuk memastikan keamanan barang-barang santri.

Puluhan tahun merantau dan menghabiskan waktu di lingkungan pesantren membuat Pak Wandi seolah telah menemukan rumah keduanya, meski jauh dari kampung halaman, ia tetap menjalani kehidupan sederhana serta terus melanjutkan niatnya untuk mengabdikan diri di pondok tersebut. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pak Wandi Pesantren alhusna pulang kampung Perantau tuban Perantau setia