KETIK, MALANG – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, menanggapi isu perselisihan Iran dan Amerika Serikat yang kini semakin memanas. Ia menilai, ketegangan tersebut berimbas terhadap industri perhotelan yang masuk dalam bidang pariwisata.
Dengan ditutupnya beberapa penerbangan dari berbagai negara Timur Tengah, menurut Agoes Basoeki, terjadi penurunan wisatawan asing yang datang ke Kota Malang. Hal ini berimbas pada okupansi hotel sebagai akomodasi penginapan.
Ketika industri perhotelan terkena imbas, tentunya ekonomi suatu daerah juga akan terpengaruh, mulai dari pedagang yang menjadi pemasok bahan makanan di hotel hingga pemasukan dari kamar.
"Keadaan tersebut sangat sulit bagi industri perhotelan karena tamu dari luar tidak bisa datang akibat penerbangan ditutup. Imbasnya, jika berkelanjutan, harga apa pun bisa mahal, minyak mahal, dan bahan-bahan pokok juga mahal," jelasnya.
Menurut Agoes Basoeki, saat ini, okupansi hotel di Kota Malang masih stabil karena 75 persen tamu yang datang merupakan wisatawan domestik. Namun, pengaruh dari konflik ini sudah mulai terasa.
"Terkait isu Iran, kondisi kami masih stabil. Sebanyak 75 persen tamu merupakan wisatawan nusantara, tetapi wisatawan asing masih ada yang datang, mungkin dari Timur Tengah. Namun, jika berkepanjangan, memang ada pengaruhnya. Semoga bisa teratasi dan kembali membaik," ucapnya.
Agoes Basoeki menyebut, industri perhotelan mulai mengambil ancang-ancang untuk mencari solusi sembari menunggu pemerintah melakukan komunikasi dan pengendalian.
"Sekarang kami rasa sudah mulai ancang-ancang mencari solusi sambil menunggu pemerintah melakukan komunikasi dan pengendalian," ungkapnya.
Sebagai pengusaha di bidang akomodasi, pihaknya juga mulai mempersiapkan strategi yang dapat digunakan apabila kondisi memburuk.
"Solusi-solusi tersebut sedang dijadikan bahan diskusi. Para pengusaha sudah mempersiapkan strategi-strategi," tandasnya. (*)
