KETIK, BOJONEGORO – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap memaksa orang berlari lebih cepat dari nuraninya, Bambang Sutrisno justru memilih melangkah perlahan. Tenang. Teguh. Ia tidak sedang melawan zaman, tetapi merawat nilai—nilai yang diwariskan turun-temurun dari leluhurnya, ajaran Samin, yang telah hidup lebih dari satu abad di tanah Bojonegoro.
Sebagai generasi kelima sedulur sikep, Bambang memikul warisan yang sederhana namun berat: kejujuran, kesabaran, kerja sungguh-sungguh, dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang baru-baru ini mendapat pengakuan negara melalui Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori masyarakat adat. Sebuah penghargaan yang datang tanpa diminta, dan diterima dengan lapang dada.
“Ini bukan prestasi pribadi,” ujar Bambang pelan. “Ini bentuk apresiasi pemerintah kepada kami sebagai generasi penerus Ajaran Samin. Kami bangga, tapi juga merasa ini amanah," ujar Bambang pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Bagi Bambang, tantangan terbesar menjaga ajaran Samin di era modern bukanlah teknologi atau perubahan sosial. Tantangan itu justru terletak pada konsistensi menjalankan nilai, terutama di kalangan generasi muda. Ia percaya, jika pitutur Samin benar-benar dipraktikkan, hidup akan menemukan jalannya sendiri.
Ajaran itu sederhana dan membumi: jujur, sabar, trokal, dan narima. Trokal berarti berusaha dengan sungguh-sungguh, sementara narima adalah menerima hasil dengan ikhlas. Tidak berlebihan, tidak mengeluh.
Wakil Bupati Hj Nurul Azizah bersama warga Samin. (Foto: Sukiman/Ketik.com)
“Kalau kita sudah jujur, sabar, dan berusaha, apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada,” katanya. Bahkan ketika nilai-nilai itu tak dipahami orang lain, ajaran Samin mengajarkan satu hal penting: tetap ikhlas, baik saat dipuji maupun saat dikritik.
Bambang adalah putra Mbah Hardjo Kardi, generasi keempat dari Samin Surosentiko, pendiri ajaran Samin. Ia tinggal di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Bojonegoro—sebuah kawasan yang hingga kini masih memelihara kesederhanaan hidup. Di sanalah nilai perlawanan tanpa kekerasan dan hidup selaras dengan sesama terus dijaga.
Menurutnya, ajaran Samin bersifat universal dan tidak bertentangan dengan agama apa pun. Lima tuntunan utama menjadi pegangan hidup: tidak mengambil hak orang lain, tidak membeda-bedakan sesama karena semua adalah saudara, berpikir sebelum berbicara, serta memiliki empati—merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum bertindak.
“Ajaran Samin ini sebenarnya sifat dasar manusia,” tutur Bambang. “Kita semua sudah dibekali watak itu sejak lahir. Tinggal mau atau tidak menerapkannya.”
Karena itulah, ia tak pernah menganggap menjadi Samin sebagai sesuatu yang istimewa. Semua manusia lahir setara, dengan tujuan yang sama: mencari ketenteraman hidup.
Dalam upaya pelestarian, Bambang juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Kebijakan penggunaan udeng dan pakaian adat Samin bermotif Obor Sewu oleh ASN dinilainya membawa dampak besar. Dari yang semula tak mengenal Samin, kini banyak orang mulai bertanya, lalu memahami.
Motif Obor Sewu sendiri bukan sekadar ornamen. Sejak 2019, motif ini disepakati sebagai identitas yang tidak diperjualbelikan secara bebas. Tujuannya sederhana: agar siapa pun yang mengenakannya memiliki kebanggaan dan cerita—pernah datang, pernah mengenal Samin. Kini, lewat kebijakan pemerintah daerah, makna itu menjangkau lebih banyak orang.
Menjelang akhir 2025, Bambang kembali merendah. Ia menyebut dirinya hanyalah simbol. Penghargaan AKI 2025 dari Menteri Kebudayaan, katanya, adalah hasil kerja banyak pihak—pemerintah, pemerhati budaya, dan para leluhur yang mewariskan ajaran tanpa pamrih.
“Ajaran Samin tidak mengajarkan meminta,” ucapnya. “Kalau diberi dengan ikhlas, baru kami terima. Itu pesan leluhur.”
Kepada generasi muda Bojonegoro dan Indonesia, Bambang menyampaikan pesan sederhana namun dalam. Jika ada nilai Ajaran Samin yang dianggap kurang baik, silakan dikritik. Namun jika dinilai baik, mari dijalankan bersama. Sebab Samin berarti sami-sami—semua sama.
Dan pada akhirnya, seperti api kecil yang dijaga agar tak padam, tujuan seluruh ajaran itu hanya satu: mencari ketenteraman hidup. (*)
