Melalui Galeri Mosstone Garden, Tomy Adi Sulap Limbah Batu Jadi Dekorasi Bernilai Seni

4 Januari 2026 07:01 4 Jan 2026 07:01

Thumbnail Melalui Galeri Mosstone Garden, Tomy Adi Sulap Limbah Batu Jadi Dekorasi Bernilai Seni
Tomi Adi, seniman pahat dari Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Di balik sebuah gang sempit di Perkampungan UMKM Rejoso, Junrejo, Kota Batu, berdiri sebuah galeri seni batu yang menyuguhkan ketenangan sekaligus kekaguman. Galeri bernama Mosstone Garden itu dirintis oleh Tomy Adi, seniman pahat yang mengolah limbah bangunan menjadi karya dekorasi bernilai seni tinggi.

Galeri tersebut dipenuhi tanaman hias dan ornamen batu yang tertata alami, menciptakan suasana sejuk dan damai. Dari tempat inilah Tomy menghabiskan hari-harinya memahat bata bekas menjadi relief bernuansa candi, tebing alam, hingga bentuk artistik lainnya yang menjadi ciri khas Mosstone Garden.

Usaha Mosstone Garden telah dirintis Tomy sejak 2010. Keputusan tersebut diambil setelah ia meninggalkan profesinya sebagai guru seni budaya di salah satu sekolah swasta di Kota Malang. Dengan tekad kuat, Tomy memilih menekuni dunia wirausaha di bidang home decor dan garden decor berbasis seni pahat.

Foto Karya Tomi yang dipamerkan di Galeri Mosstone Garden. (Foto: Tomi for ketik.com)Karya Tomi yang dipamerkan di Galeri Mosstone Garden. (Foto: Tomi for ketik.com)

“Dengan jalur ini, saya merasa lebih bebas dan memiliki waktu yang cukup untuk menuangkan ide-ide ke dalam karya,” ujar Tomy.

Dalam setiap proses produksi, Tomy tetap mempertahankan teknik pahat manual. Menurutnya, metode tersebut memberikan sentuhan personal yang tidak bisa digantikan mesin, sekaligus menjadikan setiap karya memiliki karakter berbeda.

“Teknik pahat manual menghadirkan kesan yang unik dan tidak sama dengan produk massal. Itu yang membuat karya kami terasa lebih eksklusif,” jelas alumnus Universitas Negeri Malang tersebut.

Keunikan karya Mosstone Garden mendapat respons positif dari konsumen, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga mancanegara. Tomy mengungkapkan bahwa sejumlah karyanya telah dipesan pelanggan dari Prancis dan Portugal.

Salah satu karya yang mencuri perhatian konsumen luar negeri adalah Tebing Ganesya. Karya ini memadukan relief alam tebing yang tergerus erosi dengan figur Dewa Ganesya dan dewa-dewa Hindu sebagai simbol kebijaksanaan dan keharmonisan.

Selain itu, Tomy juga pernah mengerjakan replika tebing sungai berukuran 2 x 10 meter untuk sebuah hunian pribadi. Karya tersebut menghadirkan ilusi visual yang kuat dan menyimpan nilai emosional bagi pemiliknya.

“Pemiliknya memiliki kenangan masa kecil bermain di sungai bersama ayahnya. Karya ini menjadi pengingat akan memori tersebut,” jelasnya.

Karya lain yang tak kalah kuat secara simbolik adalah patung bertema Tangan Mengepal, yang merepresentasikan keberanian, keteguhan, dan semangat menghadapi tantangan hidup. Detail pahatan dikerjakan secara maksimal untuk menghidupkan pesan tersebut.

Perkembangan usaha Mosstone Garden tidak terlepas dari pemanfaatan media sosial dan keikutsertaan dalam berbagai pameran. Melalui platform digital, jangkauan pasar semakin luas, sementara pameran menjadi ajang memperkenalkan kualitas dan keunikan karya secara langsung.

“Saya pernah mengikuti pameran di Bali, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan juga di Kota Batu,” ujarnya dengan bangga.

Dalam berkarya, Tomy berpegang pada prinsip Memayu Hayuning Bawana, yakni menciptakan karya yang selaras dengan alam. Prinsip tersebut diwujudkan dengan memanfaatkan limbah batu dan bata sisa pengrajin di Kampung Rejoso sebagai bahan baku utama.

Kerja sama tersebut tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga mengubah material tak terpakai menjadi produk bernilai seni dan ekonomi. Namun bagi Tomy, keindahan visual saja tidak cukup.

“Setiap karya harus memiliki cerita dan makna. Karakter itulah yang membedakan karya kami dan tidak bisa ditemukan di tempat lain,” tuturnya.

Meski tak lagi berprofesi sebagai guru formal, semangat Tomy dalam berbagi ilmu tetap terjaga. Ia secara rutin mengajak anak-anak tingkat SD dan SMP di lingkungannya untuk belajar seni pahat.

“Setiap minggu kami belajar bersama. Tujuannya juga untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai,” ungkapnya.

Tak hanya mengajarkan teknik seni, Tomy juga menanamkan nilai kewirausahaan kepada generasi muda. Ia mendorong anak-anak dan remaja untuk berani berkreasi, berinovasi, serta memiliki mental mandiri.

“Ini era persaingan. Anak muda jangan terus menjadi pengikut, tetapi harus berani menjadi pencipta tren,” pesannya.

Melalui Mosstone Garden, Tomy Adi tidak hanya menghadirkan karya seni bernilai tinggi, tetapi juga menanamkan semangat pelestarian lingkungan, kreativitas, dan kewirausahaan. Dedikasinya menjadi inspirasi bagi generasi muda sekaligus memberi dampak positif bagi lingkungan sosial di Kota Batu. (*)

Tombol Google News

Tags:

Seniman Pahat Kota Batu Limbah Bangunan