KETIK, SURABAYA – Kue lidah kucing merupakan camilan renyah dan gurih berbentuk pipih panjang yang populer saat Lebaran. Kudapan ini diwariskan sejak masa kolonial Belanda.
Awalnya, kue ini merupakan hidangan istimewa bagi bangsawan Belanda pada abad ke-19, namun kini menjadi sajian wajib khas hari raya.
Sejarah Lidah Kucing
Nama asli kue ini sebenarnya langues de chat, yang secara jelas menunjukkan asal-usulnya. Dalam bahasa Prancis, istilah tersebut berarti “lidah kucing”.
Kue ini pertama kali dibuat di Prancis pada abad ke-17 dan kemudian populer di kalangan bangsawan serta aristokrat Eropa.
Sesuai dengan namanya, bentuk awal kue ini dibuat menyerupai lidah kucing, tipis dan memanjang.
Seiring waktu, kue ini menyebar ke berbagai wilayah Eropa, termasuk Belanda, sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui pengaruh budaya kolonial pada masa lalu.
Di Belanda, kue ini dikenal dengan nama kattentongen, yang juga secara harfiah berarti “lidah kucing”.
Namun dalam perkembangannya, nama tersebut perlahan ditinggalkan karena dianggap sulit diucapkan. Berbeda dengan kue lain seperti kaastengels dan ananastaart yang kemudian mengalami penyesuaian pelafalan dalam bahasa Indonesia menjadi kastengel (atau kastangel) dan nastar.
Menjadi Sajian Favorit Lebaran
Seiring berjalannya waktu, kue lidah kucing tidak lagi hanya dikenal sebagai hidangan bergaya Eropa. Masyarakat Indonesia mulai mengadaptasi resepnya dan menjadikannya bagian dari tradisi sajian hari raya, khususnya saat Idulfitri.
Teksturnya yang tipis, ringan, dan renyah membuat kue ini digemari berbagai kalangan. Biasanya kue lidah kucing disajikan dalam toples bersama aneka kue kering lain seperti kastengel, nastar, dan putri salju untuk menyambut tamu yang datang bersilaturahmi saat Lebaran.
Variasi Rasa yang Semakin Beragam
Dalam perkembangannya, kue lidah kucing juga mengalami banyak inovasi. Jika dahulu hanya dikenal dengan rasa original berbahan dasar mentega, tepung, dan putih telur, kini muncul berbagai variasi seperti lidah kucing cokelat, keju, pandan, hingga rainbow dengan warna-warni yang menarik.
Kreasi tersebut membuat kue lidah kucing tetap relevan di tengah perubahan selera masyarakat, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai salah satu kue kering yang hampir selalu hadir di setiap perayaan Lebaran.
Meski telah mengalami berbagai modifikasi, bentuknya yang tipis memanjang serta teksturnya yang renyah tetap menjadi ciri khas yang membuat kue lidah kucing mudah dikenali hingga sekarang.
Tradisi yang Terus Bertahan
Meski zaman terus berubah dan berbagai jenis kue modern bermunculan, lidah kucing tetap bertahan sebagai salah satu kue klasik yang tidak lekang oleh waktu. Kehadirannya di meja tamu saat Lebaran menjadi pengingat bahwa tradisi kuliner masa lalu masih terus hidup hingga kini.
Dari sebuah kue khas Eropa yang dulu hanya dinikmati kalangan bangsawan, lidah kucing kini telah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Indonesia. Rasanya yang renyah dan manis sederhana membuatnya tetap dicintai dari generasi ke generasi.
Tidak sedikit keluarga yang bahkan membuat kue ini sendiri di rumah menjelang hari raya. Aktivitas membuat kue kering bersama keluarga menjadi bagian dari tradisi menyambut Lebaran, sekaligus mempererat kebersamaan di dapur.
Aroma mentega yang harum saat proses pemanggangan sering kali menghadirkan suasana hangat yang identik dengan persiapan hari raya.
Menjelang Lebaran, permintaan kue ini biasanya meningkat karena banyak masyarakat yang membelinya sebagai suguhan untuk tamu atau dijadikan bingkisan bagi kerabat.
Dengan bentuknya yang khas, teksturnya yang tipis, serta rasanya yang ringan, lidah kucing tetap menjadi salah satu kue yang paling mudah dikenali di antara berbagai jenis kue kering lainnya.
Keberadaannya tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang terus diwariskan setiap kali Lebaran tiba. (*)
