KETIK, SURABAYA – Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota pahlawan, tetapi juga memiliki daya tarik kuat dalam industri perfilman nasional. Sejumlah film layar lebar Indonesia menjadikan Surabaya sebagai latar cerita maupun lokasi pengambilan gambar, yang sekaligus memperlihatkan kekayaan sejarah, budaya hingga kehidupan masyarakatnya.
Informasi ini disampaikan melalui unggahan di akun Instagram @Bangga Surabaya pada 30 Maret 2026 dalam rangka memperingati Hari Film Nasional.
Berikut 5 film yang dipaparkan adalah bukti bahwa film bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin budaya dan perjalanan bangsa.
1. Bumi Manusia
Salah satu film yang menampilkan Surabaya adalah Bumi Manusia, adaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer. Film ini berlatar era kolonial tahun 1890-an dan mengangkat kisah Minke, seorang pribumi terpelajar yang menempuh pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool). Dalam film tersebut, kawasan Wonokromo menjadi salah satu latar penting, khususnya sebagai tempat tinggal tokoh Nyai Ontosoroh.
2. Aruna dan Lidahnya
film Aruna dan Lidahnya juga menampilkan Surabaya sebagai kota pertama yang dikunjungi tokoh utama bersama sahabatnya dalam perjalanan kuliner. Dalam cerita tersebut, mereka mencicipi rawon iga sebagai salah satu kuliner khas Surabaya yang dikenal luas, bahkan mendapat pengakuan internasional sebagai salah satu sup terenak di dunia versi TasteAtlas.
3. Na Willa
Film terbaru Na Willa yang dirilis pada 18 Maret 2026 turut menghadirkan nuansa Surabaya tempo dulu. Berlatar di Gang Krembangan pada era 1960-an, film ini mengangkat kisah persahabatan anak-anak dengan sentuhan nostalgia, imajinasi masa kecil, serta kehidupan keluarga yang hangat.
4. Perang Kota
film Perang Kota meskipun berlatar di Jakarta tahun 1946, memanfaatkan kawasan Kota Lama Surabaya sebagai lokasi utama pengambilan gambar. Pemilihan lokasi ini bertujuan untuk menghadirkan suasana bangunan tua yang autentik dan mendukung nuansa sejarah yang kuat. Proses syuting juga dilakukan di sejumlah kota lain seperti Semarang, Ambarawa, dan Yogyakarta.
5. Koesno, Jati Diri Soekarno
Tak ketinggalan, film dokudrama Koesno, Jati Diri Soekarno mengangkat kisah masa kecil hingga remaja Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat tinggal di Surabaya. Berbagai lokasi bersejarah di kota ini digunakan untuk memperkuat penggambaran suasana pada masa tersebut. Film ini bahkan berhasil masuk nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2022.
Keberadaan Surabaya dalam berbagai film tersebut menunjukkan bahwa kota ini memiliki potensi besar sebagai latar sinematik yang kaya akan nilai historis dan budaya.
Hal ini sekaligus menegaskan peran Surabaya dalam mendukung perkembangan industri film nasional, tidak hanya sebagai lokasi, tetapi juga sebagai sumber inspirasi cerita. (*)
