KETIK, ACEH SELATAN – Kehadiran penerbangan perintis bukan sekadar urusan transportasi, melainkan menjadi urat nadi konektivitas bagi wilayah 3TP (Terpencil, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan).
Selain itu, penerbangan perintis mempermudah wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati pesona alam "Negeri Tuan Tapa" tanpa terkendala waktu tempuh darat yang melelahkan.
"Ada begitu banyak potensi wisata yang bisa dinikmati oleh para wisatawan di Aceh Selatan, dan layanan penerbangan perintis ini bisa mempermudah perjalanan mereka dengan waktu tempuh yang lebih singkat," ungkap Farid Rasyidi selaku Plt. Kepala Kantor UPBU Bandara Teuku Cut Ali pada Senin, 23 Februari 2026.
Farid menyebut, pihaknya selama ini aktif menjalin kolaborasi dengan Pemkab Aceh Selatan dan para stakeholder terkait untuk mempromosikan layanan angkutan udara bersubsidi dari Kementerian Perhubungan RI melalui APBN. Layanan ini diharapkan memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung ke Aceh Selatan.
"Penerbangan ini juga bisa dimanfaatkan oleh pegawai pemerintah maupun swasta yang ingin melakukan perjalanan ke Kota Banda Aceh dengan tarif yang murah," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Bandara Teuku Cut Ali melayani rute penerbangan Banda Aceh - Tapaktuan dan sebaliknya menggunakan pesawat baling-baling tunggal (Cessna Grand Caravan) dengan kapasitas 12 penumpang.
Penerbangan dilakukan setiap hari Senin dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh pada pukul 10.05 WIB dengan tarif Rp644.450 dan dari Tapaktuan kembali ke Bandara SIM pada pukul 11.30 WIB dengan tarif sebesar Rp556.690. (*)
