KETIK, MALANG – Martabak telur legendaris seharga Rp5 ribuan di Kota Malang selalu jadi incaran pecinta kuliner. Puluhan tahun berjualan, rasa otentik dan isian tebal jadi alasan banyak orang tetap setia.
Hadir sejak tahun 80-an, kedai martabak telur ini awalnya berjejer di kawasan Jalan Zainul Arifin No.46–48, Sukoharjo, Klojen. Dahulu banyak penjual martabak di sana.
Namun seiring waktu, hanya Dian Agustin yang masih bertahan menjaga cita rasa kuliner legendaris tersebut.
"Ibu saya mulai saya SMP udah jualan tapi di rumah, dulu di sini banyak yang jualan salah satunya ibuku," ucap Dian Agustin, generasi kedua Martabak Dian.
View Martabak Telur dan Martabak Duro yang menggiurkan di Martabak Dian. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Martabak Dian buka setiap hari di depan Holland Bakery mulai pukul 05.30 hingga 12.00. Sore hari, Dian kembali berjualan dari jam 16.00 sampai 17.30. Khusus musim hujan, ia pindah ke area gapura gang.
Martabak ini mulai ramai sejak didatangi seorang food vlogger pada 2023. Sejak itu, lapak Dian selalu dipadati pecinta kuliner.
Berkat konten tersebut, omzet penjualan Dian ikut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain rasanya, banyak pelanggan kembali karena sikap ramah Dian Agustin. Ia kerap melayani sambil bercanda, membuat suasana berbelanja terasa akrab.
Martabak Dian juga memakai minyak biasa, berbeda dari sebagian martabak di Kota Malang yang menggunakan minyak gajih. Tanpa aroma lemak sapi, martabak ini jadi pilihan banyak orang.
"Saya pakai minyak biasa tidak pakai minyak gajih, soalnya saya pribadi tidak suka pakai minyak gajih kalau pas panas enak, cuman kalau pas dingin gajihnya menempel di langit-langit mulut gitu ya," jelas Dian.
Dian menjual dua jenis martabak: martabak jadul berisi bihun yang dikenal sebagai Martabak Duro, serta martabak telur yang belakangan viral.
Ia sebenarnya pernah mencoba membuat isian lain seperti jamur, namun para pembeli justru lebih menyukai versi original dengan bihun.
Harga martabak di lapak Dian juga terkenal murah. Martabak Telur dibanderol Rp5 ribu dan bisa ditambah cabai, sementara Martabak Duro hanya Rp2 ribu.
Dari semua menu, Martabak Telur menjadi favorit. Meski harganya murah, satu porsinya tebal dan makin nikmat jika disantap bersama acar.
Ke depannya, Dian berharap harga bahan baku bisa lebih terjangkau agar ia tetap dapat menjual martabak dengan harga murah.
"Harapannya harga-harga telur, minyak bisa turun, kalau cabai pas mahal-mahalnya, saya tidak berani kasih yang merah, saya kasih yang hijau-hijau itu, cuma kalau yang hijau itu kan ada rasa pahitnya," ucap wanita 47 tahun itu.
Bagi pecinta kuliner jadul, Martabak Duro bisa jadi pilihan wajib saat berkunjung ke Kota Malang. Menu lawas ini layak masuk bucket list makanan legendaris di kota pendidikan tersebut.(*)
