KETIK, JAKARTA – Prestasi yang membanggakan, Film Bisikan Perjamuan Terakhir, terpiluh sebagai empat film terbaik di Festival International Cinéma Asiatique di Kota Tours (FICAT), Prancis. Film karya enam sineas independen asal Indonesia itu diputar di kota tersebut untuk meraih penilai publik pada 19-22 Maret 2026.
Para sineas itu antara lain Daniel Rudi Haryanto, Oscar Herry, Firman Sasongko, Resky Machyuzar. Rolando Octavio Purba dan Yolinda Puspitarini.
Mereka hari ini, 1 April 2026 menginjakkan kaki di Tanah Air setelah melakukan lawatan 14 hari dari negeri dengan ikon Menara Eiffel itu.
Lawatan itu dilakukan untuk mengantar karya mereka, film Bisikan Perjamuan Terakhir, menghadiri festival film di Kota Tours dan kota lainnya.
Dari kiri; Para sineas, Resky Machyuzar, Rolando Octavio Purba (belakang), Yolinda Puspitarini, Daniel Rudi Haryanto, Oscar Herry, Firman Sasongko di FICAT, Prancis. (Foto: Yolinda for Ketik.com)
Film ini menjadi salah satu film yang dinominasikan oleh para juri FICAT, setelah diputar di pusat sinema kota itu untuk mendapat penilaian publik. Hasilnya, film tersebut terpilih sebagai salah satu dari empat film terbaik yang dipresentasikan dalam festival tersebut.
Bagi para sineas Indonesia, penilaian juri itu menjadi kebanggaan tersendiri karena film ini mampu bersanding dengan film-film berbagai negara; Jepang, Korea Selatan, India yang terkenal sebagai negara penghasil karya-karya sinema dunia.
Setelah mengikuti festival, para sineas ini melakukan perjalanan ke Kota Rennes untuk berjumpa dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Mereka nonton bareng dan diskusi Film Bisikan Perjamuan Terakhir di Rennes Bussines School (RSB). Kebanyakan penonton adalah anak muda dan banyak bertanya tentang masa depan industri film dan demokrasi di Indonesia. Di Rennes, para sineas ini menginap di rumah salah satu diaspora Indonesia yang merintis usaha jasa logistik.
Selanjutnya sutradara sekaligus produser film itu Daniel Rudi dan rombongannya meneruskan perjalanan ke Aix-la-Chapelle. Di sana, mereka diterima oleh asosiasi setempat yang menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi di kantor mereka.
Penulis Mulyandari berkaos putih dipadu dengan baju batik bersama Persatuan Pelajar Indonesia seusai nonton bareng dan diskusi film di di Rennes Bussines School (RSB). (Foto: Yolinda for Ketik.com)
Pemutaran film dan diskusi di selenggarakan juga di Paris, yaitu di Théâtre Pixel dan di La Maison d’Indonésie.Théâtre Pixel adalah sebuah tempat pertunjukan théatre dan film yang dikelola oleh seorang diaspora Indonesia. Di Théâtre Pixe ada kursus bagi yang ingin menekuni dunia seni peran.
La Maison d’Indonesie (LMDI) merupakan sebuah lembaga usaha yang mempromosikan produk dan tourisme Indonesia. LMDI memberi ruang promosi budaya Indonesia dengan bekerja sama dengan pihak lain, baik asosiasi maupun individu.
Pemutaran dan diskusi di dua tempat ini bekerja sama dengan Réseau Indonésie. Pemutaran di Théâtre Pixel dihadiri oleh 45 penonton melebihi jumlah kursi yang tersedia. Tetapi di La Maison d’Indonésie penonton tak sebanyak jumlah yang mendaftar.
Antusiasme warga Indonesia di Prancis menyambut para sineas indepen itu. (Foto: Yolinda for Ketik.com)
Di setiap pemutaran baik di Aix-la-Chapele maupun Paris, kesempatan diskusi tak disia-siakan oleh para penonton untuk bertanya tentang Indonesia, baik sejarah dan budaya yang melatari berbagai simbol-simbol dalam film ini. Selain itu, mereka menanyakan tentang situasi kontemporer indonesia dalam segi ekonomi, sosial dan kemajuan demokrasi.
Kisahkan Korban Operasi Trisula
Bisikan Perjamuan Terakhir adalah karya bersama beberapa pekerja film independen dari Indonesia. Disutradarai oleh Daniel Rudi Haryanto, film ini membutuhkan waktu tujuh tahun lebih hingga akhirnya dirilis dalam Program World Premiere pada akhir 2025 di Jogyakarta, Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2025.
Film ini menyajikan kisah tentang dampak Operasi Militer Trisula di masa awal pemerintahan rezim Orde Baru di Blitar Selatan, Jawa Timur, terhadap tiga orang korban yang ditangkap dan ditahan tanpa proses peradilan. Mereka adalah Mbah Talam, Mbah Sukiman, Mbah Yatman.
Dalam film ini, divisualkan sebagian besar wilayah selatan Pulau Jawa, Blitar Selatan merupakan wilayah pegunungan yang tandus. Sebelum digelar Operasi Trisula (1968-1969) wilayah ini mengalami kekeringan hebat. Saat itu, masyarakat setempat mengeluhkan serangan hama tikus yang menghancurkan lahan pertanian mereka.
Testimoni yang mengalir melalui bisikan-bisikan para korban yang masih hidup menggambarkan trauma panjang hingga hari ini. Daniel Rudi Haryanto menggunakan kemampuannya sebagai pelukis untuk menggambarkan lebih dalam pergolakan batin para korban saat peristiwa itu berlangsung dan sesudahnya.
Diskusi Film Bisikan Perjamuan Terakhir di Kota Aix la chapelle. (Foto: Yolinda for Ketik.com)
Gambar-gambar, arsip dan video wawancara itu disempurnakan dengan pengerjaan efek visual oleh Oscar Herry dan Firman Sasongko dari Team Dreamcatchers Studio, dan desain suara digarap oleh Resky Machyuzar.
Film yang diproduseri oleh Daniel Rudi Haryanto bersama Rolando Octavio Purba dan Yolinda Puspitarini ini dibuat untuk menggalang kepedulian bagi para korban tindak kekerasan oleh negara.
Bagi para sineas ini dibentuknya Kementerian Hak Asasi Manusia oleh Presiden Prabowo harus dipandang sebagai langkah positif yang harus didukung untuk memberikan keadilan bagi korban kekerasan negara di masa lalu.
"Hal ini penting untuk terciptanya rekonsiliasi nasional serta mengingatkan kepada setiap generasi agar peristiwa kejahatan atas kemanusiaan tidak terjadi lagi di masa depan," tegas Daniel Rudi Haryanto.(*)
*) Penulis Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya tinggal di Paris, Prancis.
