KETIK, GROBOGAN – Sebanyak 100 anak mengikuti khitanan massal gratis di Pendopo Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Sabtu pagi (7/2/2026). Selain itu, juga digelar sosialisasi mengenai Kesehatan Anak.
Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Grobogan, Ali Anwar menyampaikan khitanan massal ini termasuk salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi (HUT) Kabupaten Grobogan ke-300.
"Peserta sebanyak 100 anak, dari 19 kecamatan se-Kabupaten Grobogan," jelasnya di sela-sela kegiatan.
Ali menerangkan, untuk pelaksanaan khitan digelar di ruangan kantor Setda Grobogan, tepatnya berada di sebelah timur Pendapa Kabupaten Grobogan. Pihaknya melibatkan beberapa dokter dari Asosiasi Dokter Khitan Indonesia (Asdoki) di Rumah Khitanin Kabupaten Grobogan.
Turut hadir dalam kegiatan Khitanan Massal Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo, Direktur RSUD dr Soedjati Purwodadi Edi Mulyanto, dan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Djatmiko, perwakilan dari perangkat desa dan kecamatan serta orangtua.
Wabup Sugeng menyampaikan, dalam Islam, khitan adalah sebuah kewajiban, yang kemudian akan menyempurnakan kewajiban-kewajiban lainnya. Selain itu dengan khitan, berarti telah mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW maupun Nabi Ibrahim AS.
"Saya ucapkan selamat bagi adik-adik yang nanti sudah disunat. Nanti dapat gelar baru, yaitu Joko (perjaka,red). Meski ada yang namanya Joko, tetapi kalau belum disunat, berarti dia belum Joko," selorohnya.
Terpisah dr. Alif, dari Asdoki di Rumah Khitanin Grobogan menyampaikan, untuk sunatnya menggunakan rokets sealer yang merupakan suatu metode tercanggih, yakni gabungan antara metode klemp dengan electro surgical unit (ESU) sehingga tidak akan terjadi perdarahan saat proses sunat.
"Alatnya pakai pisau listrik, dicetak lalu dilem. Jadi, tidak ada alat yang nempel dan tidak diperban, juga tidak dijahit. Boleh langsung kena air dan tidak ada pantangan makanan," katanya.
Meski demikian, Alif tetap mendoakan anak-anak yang telah disunat supaya diberikan kepulihan. Selain itu, mereka juga menjadi anak-anak yang shalih, berbakti kepada kedua orang tuanya, agama, bangsa, dan negara.
Salah satu orang tua peserta, Suliyem (45), mengaku senang, putranya, Ipan Sadewa (12), dapat mengikuti kegiatan Khitanan Massal tersebut karena tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis bahkan setelah usai dikhitan, anaknya mendapat bingkisan.
"Alhamdulillah, karena gratis jadi tidak perlu mengeluarkan biaya," ujar warga Desa Boloh, Kecamatan Toroh ini.
Suliyem pun tak datang sendirian. Ada lima anak lainnya dari Desa Boloh yang juga menjadi peserta Khitanan Massal. Mereka didampingi oleh orangtuanya masing-masing. (*)
