KETIK, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong investor untuk lebih cermat dalam menyusun strategi investasi. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko sekaligus membuka peluang di berbagai instrumen.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin mengingatkan bahwa fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi imbal hasil investasi secara signifikan.
Instrumen pendapatan tetap jangka panjang, misalnya, dinilai kurang optimal dalam situasi nilai tukar yang tidak stabil. Meskipun menawarkan return yang menarik, pelemahan rupiah berpotensi menggerus keuntungan riil yang diperoleh investor.
Sebaliknya, saham di sektor defensif dinilai lebih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi. Sektor ini umumnya memiliki permintaan yang relatif stabil meski kondisi ekonomi bergejolak.
Selain itu, aset digital seperti kripto mulai menunjukkan peningkatan minat. Namun, instrumen ini tetap memiliki risiko tinggi sehingga perlu disikapi secara bijak.
Baca Juga:
Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS, Ini Penyebab dan Risiko EkonominyaUntuk mengurangi risiko, Eddy menekankan pentingnya diversifikasi investasi. Investor disarankan menyebar portofolio ke berbagai jenis aset, termasuk instrumen global, agar keseimbangan antara risiko dan imbal hasil tetap terjaga.
“Strategi ini menjadi semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung,” terangnya, Kamis, 7 Mei 2026.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membawa dampak berbeda bagi sektor ekonomi. Produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga relatif lebih murah.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan kinerja ekspor sekaligus membuka peluang lapangan kerja. Selain itu, biaya produksi di dalam negeri menjadi lebih menarik bagi investor asing untuk menanamkan modal.
Baca Juga:
OJK Malang Ajak Perempuan Waspada Pinjol Ilegal di Bulan Literasi Keuangan 2026Namun, sektor yang bergantung pada impor justru menghadapi tekanan biaya. Industri energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat harus menanggung kenaikan harga akibat pelemahan nilai tukar.
“Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal,” ungkapnya.
Karena itu, investor perlu terus memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan domestik sebelum mengambil keputusan investasi. Pendekatan yang hati-hati dan terukur dinilai menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar saat ini. (*)