KETIK, SURABAYA – Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan persoalan banjir di wilayah selatan Kota Surabaya tuntas pada 2026 melalui integrasi sistem saluran, penataan elevasi air, serta pembangunan rumah pompa dan storage air.

Target tersebut disampaikan usai peninjauan langsung ke sejumlah titik rawan banjir, mulai dari Rumah Pompa Ahmad Yani, Jalan Gayungsari Barat, hingga Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal, Senin 4 Mei 2026.

Peninjauan juga dilakukan di sejumlah saluran yang terhubung dengan Rumah Pompa Ahmad Yani, seperti Jalan Raya Jemursari, Jalan Raya Kendangsari, dan Jalan Raya Tenggilis Mejoyo. Langkah ini dilakukan untuk memastikan konektivitas antar saluran serta efektivitas sistem drainase di kawasan Surabaya selatan.

“Ini adalah pembangunan yang akan dilakukan di tahun 2026. Karena itu nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Wali Kota Eri.

Ia menegaskan bahwa persoalan banjir tidak semata-mata disebabkan oleh kapasitas saluran, tetapi juga karena belum terintegrasinya sistem aliran air antarwilayah. Karena itu, langkah yang dilakukan saat ini difokuskan pada penguatan konektivitas dan evaluasi jaringan saluran.

Baca Juga:
Pemberangkatan Haji Embarkasi Surabaya Capai 19.350 Jemaah, 44 Persen dari Target Tahun Ini

"Jadi hari ini kita meng-connectkan, mengoreksi, bagaimana satu area itu ter-connect dengan area lainnya," ujarnya.

Selain konektivitas, penataan elevasi saluran juga menjadi fokus utama. Wali Kota Eri menemukan adanya perbedaan ketinggian di sejumlah titik yang menyebabkan aliran air tidak berjalan optimal.

"Yang kedua kita memastikan semua elevasi. Elevasinya kita tata, karena tadi semua saluran sudah ada, tetapi ada beberapa elevasi yang dia tidak sama atau lebih tinggi," paparnya.

Ia mencontohkan kondisi di Dukuh Menanggal yang salurannya kering, sementara di Gayungsari masih terdapat genangan akibat perbedaan elevasi.

Baca Juga:
Polda Jatim Tangkap 4 Pelaku Pembobolan Rumah, Sudah Beroperasi di 13 Tempat

"Sehingga kalau kita melihat, saluran (Dukuh) Menanggal itu kering, tapi saluran yang ada di Gayungsari dia ada airnya," tuturnya.

Untuk memperkuat sistem tersebut, Pemkot Surabaya juga akan membangun rumah pompa baru di sejumlah titik strategis, seperti Panjang Jiwo dan depan Gereja Bethany Nginden yang selama ini kerap terdampak banjir.

"Jadi nanti kita akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu di depannya Gereja Bethany Nginden. Karena setiap tahun (depan) Gereja Bethany, Nginden itu banjir. Jadi kita nanti akan bangun di sana di tahun ini," ujarnya.

Selain itu, strategi lain yang disiapkan adalah pembangunan storage air di lokasi yang tidak memungkinkan dilakukan pelebaran saluran, seperti di kawasan Jalan Tenggilis Mejoyo menuju Panjang Jiwo yang terkendala jaringan SUTET.

"Seperti yang di (depan) Apartemen Metropolis menuju ke Panjang Jiwo, itu (pembangunan) saluran tidak bisa dilakukan, pembesaran (saluran) juga tidak bisa dilakukan karena di bawahnya ada SUTET. Makanya kita buat storage di jalan," kata dia.

Menurutnya, storage air berfungsi untuk membagi aliran air agar tidak seluruhnya masuk ke saluran irigasi, sehingga beban sistem drainase dapat dikurangi.

"Fungsi storage itu adalah untuk pembagian air. Jadi kalau dilihat, ketika ada saluran, air itu kan menuju ke sungai besar (seperti) ke Kali Jagir, Kali Surabaya, atau ke rumah pompa," paparnya.

Pemkot Surabaya juga menyesuaikan metode pembangunan dengan kondisi di lapangan, termasuk penggunaan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) apabila pembangunan box culvert belum memungkinkan.

"Kalau box culvert nanti uangnya gak cukup, maka kita menggunakan CCSP, tahun depannya baru kita lakukan box culvert. Tapi pendalamannya (pengerukan) dilakukan tahun ini juga untuk (mengatur) elevasinya," jelasnya.

Wali Kota Eri optimistis, melalui langkah ini, titik-titik rawan banjir di Surabaya selatan dapat bebas genangan pada akhir 2026.

"Insyaallah bulan November, kalaupun terjadi hujan, maka titik-titik yang kita datangi tadi tidak terjadi lagi genangan di sana. Jadi jangka pendeknya dikerjakan tahun ini. Karena nanti tahun depan tidak boleh lagi (banjir) ada wilayah di sini. Kita pindah (tangani) wilayah lain," katanya.

Ia menegaskan, perubahan tata ruang kota yang mengurangi area resapan turut menjadi penyebab meningkatnya debit air ke saluran irigasi, sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif.

"Jadi dulu Surabaya (bangunan masih) sepi, semua aliran air dimasukkan ke irigasi. Jadi ketika semua resapan itu (saat ini) habis dengan rumah, maka tidak ada resapan air, langsung masuk ke irigasi semua air hujan," pungkasnya.(*)