KETIK, SURABAYA – Banyak anak mudah zaman sekarang berpatokan pada ekonomi orang tua, terutama mahasiswa dengan begitu banyak tuntutan. Terkadang mereka menganggap itu bagian dari perjalanan hidup sebagai mahasiswa yang orang tua harus penuhi.
Di tengah kepasrahan anak mudah, Ida Ayu Prasasti Dewi, alumnus Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tahun 2015. Dia berhasil membuktikan kepada orang-orang bahwa langkah kecil tidak selalu terhenti, asalkan punya niat berusaha dan konsisten.
Semasa kuliah, Sasti -sapaan karibnya- harus pandai mengatur waktu antara studi dan bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliah dan hidup. Sempat bekerja di sebuah usaha mikro, tetapi kemudian ia memulai usaha mandiri dengan menjual risoles di kampus.
Dalam laman resmi Unair, keterbatsan ekonomi selalu mendorongnya untuk bekerja keras. Dengan kerja kerasnya tersebut, dirinya menyelesaikan wisuda dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,7.
“Tantangan terbesar saat itu adalah aspek finansial dan psikologis. Namun, keterbatasan tersebut justru mendorong saya untuk bekerja lebih keras daripada rekan-rekannya. Saya percaya bahwa kesungguhan akan membawa kita pada keberhasilan,” ujarnya mengutip dari laman Unair.
Ia juga bekerja untuk organisasi non profit (NGO) dalam bidang literasi digital dan terus menyuarakan hak digital sampai kancah internasional.
Setelah lulus dari Unair, karir Sasti berkembang pesat di salah satu organisasi non-pemerintah, ICT Watch Jakarta. Dia menjadi delegasi Indonesia di International Telecommunication Union (ITU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, karena dedikasinya.
“Keberuntungan sebenarnya adalah perpaduan antara persiapan yang matang dan kesempatan. Oleh karena itu, tetaplah rendah hati untuk terus belajar dan jangan pernah berhenti bergerak mencari solusi atas setiap tantangan yang ada. Kisah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika Unair bahwa keterbatasan di masa lalu bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi di kancah internasional,” lanjutnya. (*)
