KETIK, SURABAYA – Lagu “Sesi Potret” diciptakan oleh Putra Permana, dibawakan secara kolaborasi dari Enau dan Ari Lesmana yang dipublikasikan pada 30 Januari 2026. Lagu ini dibuat sejak November 2025 dan viral di media sosial.
Makna dari liriknya tentang kehilangan dan penyesalan. Gambar sampul album menampilkan dua anak laki-laki yang tersenyum, merupakan representasi dari hubungan akrab kakak-beradik sejak kecil, yaitu Putra Permana dan Ari Lesmana.
Keseluruhan dari lagu ini menceritakan tentang makna waktu bersama orang-orang tercinta, serta menyoroti bagaimana gengsi seorang untuk ungkapkan kasih sayang sebelum menjadi penyesalan abadi.
Serta penyesalan anak rantau yang terlambat pulang ke rumah, hingga penyesalan menyelimuti rasa bersalah dan hanya bisa menemui rumah baru (makam).
Dalam sesi wawancara tayang di YouTube @TRANSTVofficial pada, 8 April 2026. Putra Permana mengungkapkan bahwa lagu tersebut bukan hanya menceritakan pengalaman pribadi melainkan orang-orang sekitanya, dia juga khawatir dengan orang tuanya karena berada jauh darinya.
“Bisa dari teman-teman sekitar dan kekhawatiranku, karena kan orang tuaku di Pekanbaru jadi banyak khawatirnya di usia sekarang,” kata Putra Permana.
Berikut adalah lirik lagu “Sesi Potret”
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
Dan tahun ini, kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku
Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh,
kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku, manusia ini kehilanganmu
Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Ooh… Satu… dua… tiga…
Ini nyata, kau telah pergi…
Ku bertamu kerumah barumu,
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu.. Kehilanganmu (*)
