KETIK, JAKARTA – Industri perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan hadirnya aksi horor dari The Bell: Panggilan untuk Mati. Film yang diproduksi oleh MBK Production bersama Sinemata ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 7 Mei 2026.
Film yang disutradarai oleh Jay Sukmo dan ditulis oleh Priesnanda Dwisatria, mengangkat folklore yang masih jarang ditampilkan di layar lebar Indonesia.
Tidak hanya menggunakan jumpscare, tetapi juga menciptakan ketegangan melalui mitos lokal yang kuat dan jarang ditampilkan di layar lebar. Pendekatan tersebut menjadikan The Bell berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia yang beredar selama ini.
Cerita dimulai dengan sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya dapat mengurung makhluk jahat. Ketika sekelompok remaja nekat mencurinya untuk membuat konten viral, keberadaannya yang sakral terusik.
Pencurian tersebut tanpa disadari membebaskan Penebok, hantu bergaun merah yang telah terkurung bertahun-tahun. Setiap korban ditemukan dengan kepala terpenggal, dan setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian.
Fokus cerita adalah Danto, yang diperankan oleh Bhisma Mulia, seorang anak asli Belitung yang telah menghilang selama sepuluh tahun. Dia kembali ke rumah setelah kakeknya, Baharun, meninggal, yang dimainkan oleh Mathias Muchus.
Dibintangi oleh Ratu Sofya, Shalom Razade, Givina Dewi, Nabil Lunggana, dan Maulidan Zuhri, dan diproduseri oleh Budi Yulianto dan Avesina Soebli.
Untuk menghasilkan peran yang nyata, para pemain mengalami pendalaman karakter yang sangat kuat. Shalom Razade mempelajari peran aktivis kolonial dan Givina Lukita mempelajari karakter perempuan Belitung.
Menurut Budi Yulianto, konsep film ini berasal dari legenda kota Belitung, tanah kelahirannya. Budi telah berhasil dalam berbagai genre seperti romance dan drama sebelumnya, dan kali ini dia ingin menawarkan sesuatu yang berbeda kepada penonton Indonesia
"Kami hadir kembali dengan genre yang berbeda, perpaduan antara horor dan romance. Sesuatu yang mungkin berbeda di dunia perfilman Indonesia," kata Budi Yulianto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Selain di Indonesia, Sinemata dan MBK akan memperkenalkan film ini di Cannes Film Market di Paris, Prancis, dari 12 hingga 20 Mei 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa folklore Nusantara memiliki kapasitas untuk bersaing di panggung sinema internasional.(*)
