KETIK, SIDOARJO – Pria 43 tahun ini cuma tersenyum tipis. Setiap ditanya apakah akan menikah lagi, lelaki --sebut saja bernama Indra-- itu berpikir seribu kali. Perpisahan dengan istrinya pada 2010 lalu meninggalkan trauma. Dia diceraikan paksa oleh mertua.
Bagi Indra, pernikahan memang bukan jaminan kebahagiaan. Ada 1001 alasan mengapa para bujangan memutuskan tidak terburu-buru masuk ke jenjang perkawinan. Dengan berbagai pertimbangan, mereka menunda waktu untuk membangun bahtera rumah tangga. Faktor ekonomi, psikologi, atau yang lain?
Undang-Undang No. 19 Tahun 2019 Pasal 7 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan pria dan wanita sudah mencapai usia 19 tahun lebih. Umur 19 tahun merupakan batas usia minimal bagi calon mempelai laki-laki dan perempuan untuk masuk jenjang pernikahan.
Menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo yang mencapai usia 19 tahun ke atas pada 2026 adalah 1.515.685 orang. Di antara mereka tercatat laki-laki mencapai 749.284 jiwa. Perempuan 764.402 jiwa.
Berapa mereka yang belum menikah? Disdukcapil Sidoarjo mencatat 343.409 bujangan berusia 19 tahun ke atas memutuskan belum kawin dulu. Artinya, mereka memilih menjomblo meski sebenarnya sudah masuk usia boleh menikah.
Perempuan yang berusia 19 tahun atau lebih, tapi masih menjomblo berjumlah 138.138 orang. Adapun laki-laki mencapai 205.271. Ternyata lebih banyak perjaka atau bujangan yang lebih suka melajang. Sendiri. Bebas. Belum siap terbebani anak dan istri. Yang termasuk dalam belum menikah ini mereka yang berstatus duda atau janda. Baik karena cerai hidup atau cerai mati.
Data jumlah penduduk Kabupaten Sidoarjo yang berusia 19 tahun ke atas disertai data yang belum menikah. (Sumber: Disdukcapil Sidoarjo)
Lalu, di usia berapa para jomblowers itu memutuskan masa depan dengan menikah? Ada perbedaan jelas antara jomblowan (laki-laki yang belum nikah) dan jomblowati (perempuan yang belum nikah).
Jomblowati rata-rata baru memutuskan menikah sekitar umur 26--28 tahun. Di sisi lain, jomblowan rata-rata baru ”berani” menikah di usia yang benar-benar matang, yaitu 29--31 tahun. Lho? Mengapa?
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sidoarjo Redy Kusuma mengatakan, keputusan menikah atau belum menikah memang merupakan pilihan dalam proses menjalani kehidupan. Orang yang memutuskan menikah, idealnya, sudah siap lahir dan batin. Sudah bekerja. Bisa pula karena memang dijodohkan.
”Yang memutuskan belum menikah bisa karena masih fokus ke pekerjaan, sedang melanjutkan pendidikan, atau memang belum ketemu jodoh. Atau, selektif memilih jodoh,” tambah Redy Kusuma.
Bagaimana kata para jomblower? Menurut Roni, memutuskan menikah itu soal nanti. Pemuda 26 tahun itu saat ini masih memiliki fokus pada pekerjaan sebagai. Karir lebih penting.
Senyampang masih muda, Roni mengaku ingin mencari banyak referensi. Pilihan yang tepat. Menikah dengan calon istri idaman menjadi pilihan final untuk mada depan. Yang cocok keyakinan, tujuan, dan kebersamaan untuk membina rumah tangga.
”Tergesa-gesa kawin malah risikonya berat di belakang,” ungkap pemuda Buduran yang mengaku sudah tiga kali pacaran, tapi putus.
Bujangan lain, Ferdy, mengaku memang tidak ingin cepat menikah. Masih lebih asyik kumpul-kumpul dengan teman. ”Golek seneng sik,” ujar bujangan 29 tahun asal Candi tersebut.
Pendapat Ahmad berbeda lagi. Remaja 24 tahun yang tinggal di Perumahan Sidokare, Kecamatan Sidoarjo. Dia mengaku masih menghitung antara menikah sekarang atau beberapa tahun lagi. Ahmad mengaku sudah punya calon.
Mereka sama-sama bekerja di Surabaya, namun di perusahaan swasta yang berbeda. Hampir 1 tahun berkenalan, mereka sepakat menjalani dulu masa-masa pendekatan. Orang tua, saudara, maupun keluarga lain.
”Kami mau nabung dulu. Malu kalau mengandalkan orang tua terus,” ujarnya.
Cahaya punya pandangan yang lain dari para bujangan yang belum pernah menikah itu. Di usianya yang masih 42 tahun, Cahaya lebih memikirkan bagaimana agar anak-anaknya bisa sekolah. Lulus sampai sarjana. Dua anaknya. Satu sudah kuliah, satunya lagi kelas 11 SMA.
”Yang penting cari uang. Bagaimana caranya anak-anakku tidak hidup susah,” ungkap perempuan yang tinggal di Puri Indah, Kota Sidoarjo, tersebut.
Seorang pengusaha bernama Satrio mengaku sebenarnya sangat ingin menikah lagi. Istrinya sudah meninggal sekitar 6 tahun lalu. Satrio sendiri mengaku usianya sudah 55 tahun. Dia berharap bisa punya pasangan lagi yang akan menemaninya sepanjang hidup.
Beberapa kandidat pernah dikenalkan. Rata-rata sesama pengusaha atau wanita karir yang penampilannya eksekutif dan sosialita. Satrio pun pada akhirnya merasa cocok dengan salah satu perempuan. Usianya sekitar 50 tahunan.
”Cuma, waktu saya nyatakan ingin mengajaknya berumah tangga, syaratnya berat,” kata Satrio.
”Berat seperti apa?”
”Maharnya minta Rp 2 miliar,” sebutnya. Satrio pun mundur. Bukan karena tidak punya cukup modal, dia tidak membayangkan bagaimana kehidupan mereka setelah bersama nanti. (*)
