Tragedi Bus ALS Muratara:

Jenazah Hangus Tak Bisa Dikenali, Hasil DNA Tunggu 5 Hari hingga 2 Pekan

7 Mei 2026 19:43 7 Mei 2026 19:43

Yola Dwi R., Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Jenazah Hangus Tak Bisa Dikenali, Hasil DNA Tunggu 5 Hari hingga 2 Pekan

Karumkit RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol dr Budi Susantosaat melakukan konfrensi pers, Kamis 7 Mei 2026 (Foto : Yola/Ketik.com)

KETIK, PALEMBANG – Proses identifikasi korban kecelakaan maut Bus ALS dan mobil tangki di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), masih terus berlangsung di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang.

Karumkit RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol dr Budi Susanto mengatakan, kondisi jenazah yang terbakar hebat membuat proses identifikasi tidak bisa dilakukan secara visual sehingga harus menggunakan metode Disaster Victim Identification (DVI) melalui pemeriksaan DNA dan pencocokan data gigi.

“Untuk jenazah itu kondisinya memang terbakar hangus, jadi memang kondisinya agak sulit kita identifikasi. Kondisi korban saat ini terbakar hangus mulai dari rambut, kulit sampai ketulan, bahkan giginya pun sampai tidak berbentuk utuh lagi tapi pecah,” ujar dr Budi Susanto saat melakukan konfrensi pers Kamis 7 Mei 2026.

Ia menjelaskan, saat ini tim DVI telah mengambil sampel DNA dari seluruh jenazah korban. Selain itu, sebanyak 11 sampel DNA dari keluarga korban juga telah diterima, sementara lima keluarga lainnya masih ditunggu kedatangannya. 

“Untuk pemeriksaan DNA, saat ini sudah kita ambil sampel dari seluruh korban jenazah dan 11 sampel dari keluarga korban. Jadi masih ada lima keluarga korban yang belum hadir ke sini,” katanya.

Sampel DNA tersebut rencananya akan dikirim ke Laboratorium DNA Pusdokkes Polri melalui jalur protokol bandara pada Jumat pagi.

“Pemeriksaan DNA itu kita lakukan mulai dari kita kirim besok pagi. Rencananya akan kita kirimkan sampel DNA tersebut. Paling cepat bisa tayang hasil pemeriksaan lima hari dan paling lama dua minggu sudah bisa kita tayangkan untuk hasilnya,” jelasnya.

Selain pemeriksaan DNA, proses identifikasi juga dilakukan dengan mencocokkan data gigi para korban.

Menurut dr Budi, operasi DVI dalam kasus bencana massal tidak bisa dilakukan sendiri dan melibatkan banyak pihak, termasuk Dinas Kesehatan.

“Pada kasus-kasus DVI atau bencana massal memang dikhususkan untuk mengidentifikasi yang secara visual dan medis kita tidak bisa mengenali korban tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, terdapat tiga korban selamat dalam insiden tersebut. Dua korban dievakuasi menggunakan ambulans, sedangkan satu korban direncanakan menjalani perawatan di RS Bhayangkara Palembang karena membutuhkan penanganan medis lebih lanjut akibat luka bakar dengan derajat berbeda.

“Alasannya adalah karena pasien memerlukan perawatan dan pengobatan yang lebih invasif lagi, lebih lanjut. Sementara, insya Allah ke Rumah Sakit Bhayangkara kita siap untuk menjadi rumah sakit rujukan,” katanya.

Ia menambahkan, korban luka bakar berisiko tinggi mengalami infeksi pasca kejadian sehingga membutuhkan penanganan intensif.

“Pada kasus-kasus luka bakar yang ditakutkan adalah pasca tindakan atau pasca kejadian itu akan menimbulkan risiko infeksi. Kalau dibiarkan berlanjut bisa mengakibatkan hal-hal yang bersifat lebih fatal lagi,” tegasnya.

Adapun tiga korban selamat tersebut yakni Ngadiono (44), warga Pati, Jawa Tengah, Jumiatun (35), dan M. Tahrul (31).(*)

Tombol Google News

Tags:

bus als Mobil Tangki Jalan lintas Sumatera RS Bhayangkara Palembang Identifikasi Korban dvi Mabes Polri Polda Sumsel