Waspada! Modus Penipuan Akses Raudhah Kian Marak, Jemaah Diminta Tak Klik Link Asing

29 April 2026 12:05 29 Apr 2026 12:05

Dina Elwarda, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Waspada! Modus Penipuan Akses Raudhah Kian Marak, Jemaah Diminta Tak Klik Link Asing

Suasana khusyuk jemaah saat beribadah di Raudhah. (Foto: haji.go,id)

KETIK, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah melalui Kepala Bidang Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi, Ichsan Marsha, mengingatkan jemaah haji agar waspada terhadap penipuan terkait akses masuk ke Raudhah di Masjid Nabawi. Ia menegaskan bahwa masuk ke Raudhah tidak dipungut biaya dan hanya bisa dilakukan melalui jalur resmi.

Jemaah juga diminta berhati-hati terhadap modus penipuan terkait kartu Nusuk. Oknum kerap mengirim tautan melalui WhatsApp dan meminta jemaah untuk mengkliknya. Ichsan menegaskan agar jemaah tidak mempercayai dan tidak membuka tautan tersebut.

“Disampaikan kepada jemaah haji agar berhati-hati dengan penipuan modus bahwa kartu Nusuk bermasalah, dengan cara meminta klik link yang mereka kirim ke WhatsApp jemaah. Jangan percaya dan jangan klik link yang mereka kirim,” tegasnya.

Lebih lanjut Ichsan menjelaskan, akses resmi ke Raudhah hanya menggunakan sistem barcode, baik melalui skema tasrih (izin kolektif) maupun aplikasi Nusuk bagi jemaah mandiri. Di luar mekanisme ini patut dicurigai sebagai penipuan.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, menegaskan bahwa seluruh Jemaah Indonesia memiliki hak masuk Raudhah secara gratis. Jika ada pihak meminta uang, jemaah diminta segera melapor ke petugas sektor, khususnya di area Nabawi.

“Masuk ke Raudhah itu gratis. Jika ada pihak yang menawarkan jasa lalu meminta bayaran, segera laporkan ke petugas di sector, khususnya sector Nabawi,” ujar Khalilurrahman pada Selasa, 28 April 2026.

Ia juga mengingatkan maraknya oknum yang mengaku petugas dan meminta bayaran. PPIH memastikan tidak mentoleransi segala bentuk pungutan liar.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daker Madinah, Efrilen Hafizh, menyampaikan bahwa skema tasrih telah disiapkan untuk mengatur akses jemaah secara tertib. Hingga 28 April 2026 pukul 10.00 WAS, sebanyak 25.564 jemaah telah memperoleh tasrih, terdiri dari 12.747 laki-laki dan 12.817 perempuan.

“Per 28 April 2026 pukul 10.00 WAS, jumlah tasrih yang telah disetujui mencapai 25.564 jemaah, dengan rincian 12.747 jemaah laki-laki dan 12.817 jemaah perempuan,” jelas Hafizh.

Pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan ketat, di mana jemaah wajib menggunakan barcode, baik melalui tasrih bagi rombongan maupun aplikasi Nusuk bagi Jemaah mandiri.

Terkait batas usia, yang semula maksimal 41 tahun kini dinaikkan menjadi 60 tahun, sementara jemaah di atasnya tetap difasilitasi dengan mekanisme khusus.

Dalam pelaksanaannya, barcode tasrih kolektif dikelola oleh Sektor Khusus (Seksus) Nabawi. Petugas akan mengoordinasikan jemaah sesuai kuota, misalnya satu tasrih untuk 150 orang, sehingga seluruh kuota dapat dimanfaatkan optimal.

“Misalnya satu tasrih untuk 150 orang, maka harus dipastikan seluruh Jemaah sudah berkumpul. Barcode tidak dibagikan bebas agar kuota terisi optimal dan tidak terbuang saat pemeriksaan di pintu masuk raudhah,” ujarnya.

Melalui sistem ini, Kemenhaj melalui PPIH berkomitmen memastikan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia agar dapat beribadah di Raudhah dengan aman, tertib, dan bebas dari pungutan liar. (*)

Tombol Google News

Tags:

Akses Raudhah Info Madinah Berita Madinah Penipuan Akses Raudah jemaah haji Haji 2026 ‎ #Ketik Haji