Sepenggal Kisah di TransJatim Koridor Mojokerto-Surabaya (9)

Perjalanan Tak Selalu Nyaman! Ya Kaget Ya Risih, Kakek itu Tiba-tiba Minta Nomor WA

1 Mei 2026 16:22 1 Mei 2026 16:22

Dina Elwarda, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Perjalanan Tak Selalu Nyaman! Ya Kaget Ya Risih, Kakek itu Tiba-tiba Minta Nomor WA

Bus TransJatim parkir di depan Halte Terminal Kertajaya untuk mengangkut penumpang pada keesokan harinya. (Foto: Dina Elwarda/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Bertemu orang dengan berbagai kerandoman karakternya adalah hal lumrah bagi penumpang setia transportasi umum. Namun, tidak semua pertemuan meninggalkan kesan menyenangkan.

Namun, kini bukan tentang pengalaman bertemu orang “random” yang menyenangkan seperti pada tulisan “Sepenggal Kisah di TransJatim Koridor Mojokerto-Surabaya edisi 5”. Tapi justru sebaliknya, ini adalah kisah teman saya yang bertemu orang lain dan meninggalkan rasa tidak nyaman, bahkan membuatnya sempat trauma hingga takut kembali naik transportasi umum.

Hari itu, seperti biasa, ia menunggu bus di halte Terminal Kertajaya Mojokerto. Antrean sudah mulai panjang, silih berganti naik. Yang belum rejeki karena penuh maka harus menunggu bus berikutnya.

Tak lama kemudian, bus berhenti dan pintu terbuka. Penumpang perlahan naik, mengisi kursi yang masih kosong. Teman saya mendapatkan tempat duduk di dekat jendela. Namun, suasana berubah ketika pria, atau tepatnya seorang kakek-kakek. Ini karena dia mengaku sudah berusia 70 tahun. Kakek itu tepat duduk di sampingnya.

Awalnya, percakapan berjalan biasa saja. Obrolan ringan yang sering terjadi antarpenumpang pada umumnya. Tapi semakin “ke sini”, kakek itu semakin “ke sana”. Sikap sang kakek juga mulai terasa janggal. Pertanyaan-pertanyaannya menjadi kurang pantas, dan gerak-geriknya membuat tidak nyaman. “Risih,” kata teman saya waktu itu.

Saat roda bus sudah berputar di atas aspal, hal seperti bersenggolan sebenarnya wajar, apalagi jika melewati jalanan berlubang. Tapi kali ini berbeda memang. Tanpa ada guncangan berarti, kakek itu justru beberapa kali menggeser posisi duduknya, semakin mendekat, semakin mendekat hingga membuat teman saya merasa terdesak di dinding bus.

Jaraknya berbincang juga sangat dekat, hampir ke wajah teman saya. Situasi itu membuatnya semakin tidak nyaman, bahkan ia mulai merasa takut. Puncaknya, kakek tersebut tiba-tiba bertanya, “Nomor WhatsApp kamu berapa?”.

Dek, teman saya terdiam, takut setengah kaget. Ia tidak berani bereaksi banyak, hanya berharap perjalanan segera berakhir dan tiba di Kota Pahlawan.

Teman saya hanya diam dan tak merespons permintaan si kakek yang minta nomor handphone. Bukannya teman saya sombong, tapi bertemu orang baru ditambah dengan gelagat mencurigakan, membuatnya takut.

Akhirnya, bus pun tiba di halte Dukuh Menanggal Surabaya. Tanpa pikir panjang, ia pun segera beranjak, turun dan menjauh secepat mungkin dari pantauan sang kakek.

Dan, ternyata kejadian tak menyenangkan hari itu belum berakhir. Saat sore di hari sama, ketika teman saya hendak pulang ke Mojokerto menggunakan TransJatim, kembali ia bertemu dengan kakek yang sama. Meski kali ini tidak duduk bersebelahan, kakek tersebut masih mengenalinya dan kembali menunjukkan sikap yang membuatnya risih.

Setibanya kembali di Terminal Kertajaya Mojokerto, teman saya langsung melapor kepada petugas di bus (kondektur). Beruntung, sebelumnya ia sempat merekam sosok kakek tersebut, meskipun tidak terlalu jelas.

Petugas tersebut menunjukkan empati dan memberikan imbauan agar segera melapor jika selama di dalam bus dan di perjalanan menerima gangguan atau bertemu penumpang yang mencurigakan dengan gelagat-gelagatnya.

“Kalau ada kejadian seperti ini lagi, jangan ragu untuk langsung lapor. Biar kami bisa segera bertindak saat pelakunya masih ada,” kata sang kondektur kepada teman saya itu.

Ia mengaku kasus serupa bukan pertama kali terjadi. Ini menandakan agar penumpang pro aktif untuk melapor. Sebab, kerap setelah laporan masuk dan mencari sang pelaku, hampir selalu ditemukan.

Tentu, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa rasa tidak nyaman di ruang publik tidak boleh dianggap sepele. Jika mengalami situasi serupa, jangan ragu untuk bersuara, menjauh atau melapor kepada petugas. Keberanian untuk melapor tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga dapat mencegah kejadian serupa menimpa orang lain. (*)

Tombol Google News

Tags:

Bus TransJatim Sepenggal Kisah Transjatim info mojokerto berita mojokerto Pengalaman Kurang Menyenangkan Koridor Mojokerto-surabaya Bertemu Orang Random Halte Dukuh Menanggal Terminal Kertajaya