KETIK, JAKARTA – Wacana pemberian susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus jadi sorotan publik. Kali ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sampai mengirim surat terbuka kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bentuk perhatian terhadap kebijakan tersebut.
IDAI menegaskan kalau ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi dan tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh susu formula.
Dalam surat terbukanya, IDAI mengingatkan bahwa pemberian susu formula tidak boleh dilakukan sembarangan, apalagi jika dibagikan secara massal tanpa rekomendasi medis. Organisasi dokter anak tersebut khawatir kebijakan itu justru dapat memengaruhi keberhasilan program ASI eksklusif di Indonesia.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa ASI memiliki kandungan penting yang belum bisa digantikan sepenuhnya oleh produk susu formula mana pun.
“ASI adalah makanan terbaik untuk bayi,” tegas IDAI dalam surat terbukanya.
IDAI menjelaskan, ASI bukan hanya sekadar sumber makanan, tetapi juga memiliki antibodi alami, bakteri baik untuk kesehatan usus bayi, hingga nutrisi penting yang membantu perkembangan otak anak. Karena itu, bayi sangat dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia dua tahun.
Dalam pembahasannya, IDAI juga menyoroti beberapa risiko jika susu formula diberikan kepada bayi sehat tanpa indikasi medis yang jelas. Salah satunya yaitu bayi bisa menjadi lebih jarang menyusu langsung kepada ibu sehingga produksi ASI menurun. Selain itu, pemberian formula terlalu dini juga disebut dapat memengaruhi kesehatan usus bayi dan mengurangi perlindungan alami dari kolostrum.
IDAI menilai susu formula sebenarnya hanya diperuntukkan bagi kondisi tertentu, seperti bayi dengan gangguan metabolik, bayi prematur dengan kebutuhan khusus, atau keadaan darurat medis tertentu. Karena itu, penggunaannya tetap harus berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, sebelumnya juga telah memberikan penjelasan terkait polemik tersebut. Ia menegaskan program MBG tidak menjadikan susu formula sebagai pilihan utama karena pemerintah tetap menekankan pentingnya pemberian ASI sampai usia dua tahun.
“BGN tidak mengambil opsi susu formula bayi karena menekankan pada pemberian ASI sampai dua tahun,” kata Dadan Hindayana.
Meski begitu, BGN menyebut susu formula lanjutan atau susu pertumbuhan masih dimungkinkan diberikan untuk kondisi tertentu sesuai rekomendasi tenaga kesehatan seperti dokter maupun bidan.
Ramainya polemik ini juga langsung memicu berbagai tanggapan di media sosial. Banyak warganet mendukung langkah IDAI karena dianggap penting untuk menjaga kesadaran masyarakat soal manfaat ASI bagi tumbuh kembang anak. Sementara yang lain meminta pemerintah memberikan penjelasan lebih detail agar tidak terjadi salah paham terkait program MBG tersebut. (*)
