KETIK, PACITAN – Penyebab kematian ternak di Dusun Janglot, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, akhirnya terkonfirmasi. 

Hasil pemeriksaan laboratorium Balai Besar Veteriner Wates menyatakan ternak yang mati terinfeksi antraks.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Sugeng Santoso, mengungkapkan tingginya mobilitas ternak di wilayah perbatasan diduga menjadi salah satu penyebab masuknya antraks ke Desa Pelem.

Menurutnya, peternak dan pedagang kambing di wilayah Pringkuku, Donorojo, dan Punung selama ini banyak melakukan transaksi ternak dengan daerah perbatasan seperti Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Pracimantoro dan Purwantoro di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

“Peternak kita, pedagang kambing kita utamanya yang di daerah Pringkuku, Donorojo, Punung banyak yang ke Gunungkidul, Pracimantoro, dan Purwantoro. Mobilitas ternak yang ada di perbatasan Pacitan dan Jawa Tengah cukup tinggi,” kata Sugeng kepada Ketik.com, Kamis, 18 Juni 2026.

Baca Juga:
RSUD dr Darsono Pacitan Latih 690 Karyawan Hadapi Gempa, Tsunami dan Kebakaran

Tingginya aktivitas perdagangan ternak tersebut membuat risiko penyebaran penyakit antardaerah semakin besar.

“Ketika di suatu daerah ada kasus, otomatis risiko penyebaran ke daerah lain juga cukup tinggi. Bukan tidak mungkin masuknya ke Desa Pelem, Pringkuku itu dari ternak yang didapat dari pasar seperti itu,” ujarnya.

Indikasi Bukan dari Kandang

Selain faktor mobilitas ternak, kondisi kandang sempat menjadi perhatian dalam proses investigasi. 

Baca Juga:
Siap-siap! Festival Rontek Pacitan 2026 Digelar Bulan Juli, Ini Bedanya dengan Tahun Lalu

Namun berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, DKPP menilai kondisi kandang peternak di Dusun Janglot masih tergolong standar.

Sugeng mengakui kebersihan kandang tetap perlu ditingkatkan sebagai langkah pencegahan penyakit. 

Namun untuk kasus kali ini, indikasi penyebab lebih mengarah pada lalu lintas ternak dibanding kondisi kandang.

“Untuk kandang pada umumnya standar. Kebersihan memang perlu ditingkatkan, tetapi sementara indikasinya lebih mengarah pada mobilitas ternak dari pasar ke pasar,” jelasnya.

Tak Ada Penutupan Pasar Hewan

Munculnya kasus antraks di Desa Pelem juga memunculkan kekhawatiran terkait aktivitas perdagangan ternak di Pacitan. 

Namun hingga saat ini pemerintah daerah belum mengambil kebijakan penutupan pasar hewan.

Menurut Sugeng, arahan yang diterima dari pimpinan adalah mengutamakan langkah pengendalian dan pencegahan selama kondisi masih dapat dikendalikan.

“Sementara belum ada penutupan pasar hewan. Petunjuk dari pimpinan, selagi masih bisa dilakukan penanganan dan antisipasi serta bisa dikondisikan, maka belum perlu dilakukan penutupan,” katanya.

Meski pasar hewan tetap beroperasi, pemerintah menerapkan pembatasan lalu lintas ternak dari Desa Pelem untuk sementara waktu.

“Yang dari Desa Pelem ini tidak diizinkan keluar ke daerah lain dulu. Ini dilakukan untuk memutus rantai penularan ke wilayah lain,” tegas Sugeng.

Penanganan Intensif Terus Dilakukan

Sejak kasus kematian ternak pertama kali dilaporkan, DKPP bersama tim kesehatan hewan telah melakukan berbagai langkah penanganan di lokasi terdampak.

Mulai dari desinfeksi kandang, pemberian vitamin, pengobatan, hingga vaksinasi terhadap ternak yang masih sehat terus dilakukan guna mencegah penyebaran lebih luas.

Sugeng menyebut kondisi di lapangan saat ini mulai menunjukkan perkembangan positif.

“Sampai hari ini masih lanjut. Insyaallah yang di Dusun Janglot semuanya ternak sudah tertangani. Insyaallah sudah mulai baik. Bahkan sebelum hasil laboratorium keluar, kami juga sudah melakukan penanganan,” ujarnya.

Ia berharap tidak muncul lagi kasus baru dalam beberapa hari mendatang sehingga situasi dapat segera terkendali sepenuhnya.

“Semoga tidak ada penambahan lagi,” imbuhnya.

Kerugian Peternak Tembus Puluhan Juta

Berdasarkan data DKPP Pacitan, total ternak yang mati akibat kasus antraks di Dusun Janglot terdiri dari empat ekor sapi dan tiga ekor kambing. 

Sementara satu ekor ternak lainnya sebelumnya dilaporkan mati dan masuk dalam rangkaian kasus yang sama.

"Jika rata-rata sapi sekitar Rp15 juta per ekor dan kambing sekitar Rp2 juta per ekor, kerugian ekonomi yang dialami peternak diperkirakan mencapai Rp66 juta," ungkapnya.(*)