KETIK, PACITAN – Kepuasan wisatawan tidak hanya berdampak pada meningkatnya angka kunjungan ke destinasi wisata di Kabupaten Pacitan, tetapi juga menjadi kekuatan promosi yang paling efektif.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan, Muniirul Ichwan, Sabtu, 1 Agustus 2026.
"Ketika wisatawan merasa puas, mereka akan datang kembali dan menceritakan pengalaman mereka kepada orang lain. Itu menjadi promosi yang sangat efektif bagi pariwisata Pacitan," katanya.
Menurutnya, wisatawan yang memperoleh pengalaman positif saat berlibur secara tidak langsung menjadi promotor gratis yang membantu memperkenalkan potensi wisata Pacitan kepada masyarakat luas.
Ia mengatakan strategi promosi pariwisata saat ini tidak hanya mengandalkan pemasaran melalui media konvensional maupun digital.
Menurutnya, kualitas pelayanan kepada wisatawan justru menjadi faktor utama yang mampu menciptakan promosi secara alami.
Ia menjelaskan, wisatawan yang merasa puas cenderung membagikan pengalaman mereka melalui media sosial, mengunggah foto dan video destinasi wisata, hingga memberikan rekomendasi kepada keluarga maupun kerabat.
Pola promosi seperti itu dinilai memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan promosi berbayar.
Menurutnya, perkembangan media sosial membuat setiap wisatawan kini dapat menjadi duta promosi daerah.
Unggahan mengenai keindahan pantai, gua, maupun destinasi wisata lainnya di Pacitan mampu menjangkau ribuan hingga jutaan pengguna internet tanpa biaya promosi tambahan dari pemerintah.
Karena itu, Disparbudpora tidak hanya fokus memperluas promosi destinasi, tetapi juga terus melakukan pembenahan tata kelola kawasan wisata.
Berbagai upaya dilakukan mulai dari peningkatan pelayanan kepada pengunjung, pengawasan retribusi, pengelolaan tiket yang lebih baik, hingga evaluasi operasional di setiap destinasi wisata.
Munirul menilai pelayanan yang semakin baik tidak hanya meningkatkan kepuasan pengunjung, tetapi juga mampu menekan potensi kebocoran pendapatan daerah dari sektor pariwisata.
Dengan sistem pengelolaan yang lebih tertata, seluruh potensi penerimaan dapat dioptimalkan sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan.
Selain menjangkau wisatawan baru, strategi tersebut juga diharapkan mampu mendorong wisatawan lama kembali berkunjung.
Informasi terbaru mengenai fasilitas, agenda festival, maupun pengembangan destinasi wisata menjadi daya tarik tersendiri agar wisatawan tidak hanya datang sekali.
"Promosi memang penting, tetapi pelayanan yang baik adalah kunci agar wisatawan mau kembali. Kalau mereka puas, mereka sendiri yang akan mempromosikan Pacitan," ujarnya.
Munirul menjelaskan, meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tidak semata-mata berasal dari penjualan tiket masuk objek wisata.
Kehadiran wisatawan juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui efek berganda atau multiplier effect.
Setiap wisatawan yang datang akan membelanjakan uangnya di berbagai sektor, mulai dari hotel, homestay, rumah makan, transportasi lokal, hingga membeli oleh-oleh dan produk UMKM. Kondisi tersebut membuat sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
"Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat. Bukan hanya pemerintah yang memperoleh PAD, tetapi pelaku UMKM, pedagang, penyedia jasa transportasi, fotografer wisata, hingga pengelola homestay juga ikut merasakan manfaatnya," jelasnya.
Melihat tren kunjungan wisata yang terus meningkat, Disparbudpora optimistis target PAD sektor pariwisata tahun 2026 sebesar sekitar Rp11 miliar dapat tercapai.
Hingga pertengahan tahun, realisasi pendapatan telah melampaui 60 persen dari target yang ditetapkan.
"Tahun ini target PAD kita ditetapkan sebesar kurang lebih Rp11 miliar. Insyaallah bisa tercapai," kata Munirul.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata harus dibarengi dengan pengelolaan yang berkelanjutan.
Kebersihan kawasan wisata, kualitas infrastruktur, pengelolaan sampah, keamanan, hingga pelestarian lingkungan harus terus menjadi perhatian agar daya tarik wisata Pacitan tetap terjaga.
Selain itu, pengembangan destinasi wisata baru juga dinilai penting agar kunjungan wisata tidak hanya terpusat di Pantai Klayar dan Watu Karung.
Diversifikasi destinasi diharapkan mampu memperluas pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Pacitan.(*)
