KETIK, PACITAN – Ratusan personel gabungan mengikuti simulasi penanggulangan tsunami di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, Rabu, 3 Juni 2026. 

Simulasi yang berlangsung selama tiga hari hingga Jumat, 5 Juni 2026 itu menguji kemampuan koordinasi lintas sektor mulai dari aktivasi sistem peringatan dini, proses evakuasi warga, hingga penanganan pengungsi pascabencana.

Kegiatan yang diikuti TNI Angkatan Laut, BPBD, TNI-Polri, Basarnas, relawan kebencanaan, hingga masyarakat pesisir tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah selatan Kabupaten Pacitan.

Wadan Pusteral Mabesal Kolonel Laut (P) Dr. Rully Riono, M.Tr.Opsla, mengatakan latihan tersebut dirancang untuk memastikan seluruh unsur penanganan bencana mampu bergerak cepat dan terkoordinasi ketika terjadi keadaan darurat.

"Tujuan utama latihan ini adalah membangun kesiapsiagaan operasional yang menyeluruh. Kami ingin memastikan koordinasi antarinstansi dapat berjalan cepat, tepat, dan tanpa hambatan saat situasi darurat terjadi," katanya usai memimpin upaca pembukaan.

Baca Juga:
34 Desa di Pacitan Jawa Timur Terancam Kekeringan, DPRD Minta Aksi Cepat Pemerintah

Dalam simulasi tersebut, sirene peringatan dini dibunyikan sebagai tanda terjadinya gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami. Warga yang terlibat langsung diarahkan menuju jalur evakuasi dan titik kumpul aman sesuai prosedur mitigasi bencana yang telah ditetapkan.

Selain masyarakat pesisir, latihan juga melibatkan personel TNI AL, Kodim, Polres Pacitan, BPBD, Basarnas, serta forum relawan kebencanaan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana di wilayah Pacitan.

Menurut Rully, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam simulasi karena mereka merupakan kelompok yang paling rentan terdampak apabila bencana benar-benar terjadi.

"Kami tidak hanya melatih aparat, tetapi juga masyarakat. Tujuannya agar warga memahami apa yang harus dilakukan ketika menerima informasi adanya ancaman tsunami," ujarnya.

Baca Juga:
Gagarin: Jangan Sampai Program MBG di Pacitan Justru Untungkan Daerah Lain

Ia menjelaskan, Pacitan dipilih sebagai lokasi pelatihan karena memiliki garis pantai yang panjang dan berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust Samudra Indonesia.

Kondisi geografis tersebut menjadikan wilayah pesisir Pacitan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami sehingga membutuhkan kesiapsiagaan yang terus diperkuat.

Dalam latihan tersebut, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai penggunaan Early Warning System (EWS), tata cara evakuasi mandiri, pengelolaan posko pengungsian, layanan kesehatan darurat, hingga pengoperasian dapur umum untuk memenuhi kebutuhan korban bencana.

Rully mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi potensi bencana, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan mengenali tanda-tanda alam serta memahami jalur evakuasi yang tersedia.

"Ketangguhan bencana dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Kenali jalur evakuasi, patuhi informasi resmi, dan selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," tegasnya.

Melalui simulasi tersebut, seluruh unsur yang terlibat diharapkan semakin siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana tsunami sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian dapat diminimalkan.(*)