Gandeng EMT 118, RSUD dr Darsono Pacitan Latih 30 Perawat Hadapi Kasus Henti Jantung dan Trauma

21 Juli 2026 12:26 21 Jul 2026 12:26

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Gandeng EMT 118, RSUD dr Darsono Pacitan Latih 30 Perawat Hadapi Kasus Henti Jantung dan Trauma

Perawat RSUD dr Darsono Pacitan saat mengikuti pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) dan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) bekerja sama dengan EMT 118 Surabaya untuk meningkatkan kemampuan penanganan pasien dalam kondisi kegawatdaruratan, 14–19 Juli 2026. (Foto: RSUD for Ketik)

KETIK, PACITAN – RSUD dr. Darsono Pacitan terus memperkuat kualitas layanan kesehatan, khususnya dalam penanganan kegawatdaruratan. 

Sebanyak 30 perawat rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Pacitan tersebut mengikuti pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) dan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) yang berlangsung pada 14–19 Juli 2026.

Pelatihan yang bekerja sama dengan tim EMT 118 Surabaya itu dilaksanakan secara daring pada 14–17 Juli 2026 dan dilanjutkan dengan sesi luring pada 18–19 Juli 2026 di Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr Darsono Pacitan.

Direktur RSUD dr Darsono Pacitan, dr. Johan Tri Putranto, mengatakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan yang cepat dan tepat, terutama pada kasus-kasus yang mengancam keselamatan jiwa.

"Henti jantung dan cedera akibat trauma merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Karena itu, tenaga kesehatan, khususnya perawat, harus memiliki kemampuan yang memadai dalam melakukan pertolongan pertama dan resusitasi," katanya, Selasa, 21 Juli 2026.

Menurut dr. Johan, pelatihan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan perawat saat menghadapi pasien dengan kondisi kritis, baik di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang perawatan, maupun unit pelayanan lainnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi terkait Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan Automated External Defibrillator (AED) sebagai alat pertolongan pertama pada pasien henti jantung mendadak, penatalaksanaan jalan napas dan pernapasan non-advanced airway, hingga interpretasi elektrokardiogram (EKG).

Selain itu, para perawat juga dibekali kemampuan dalam penanganan pasien yang membutuhkan terapi listrik, penanganan henti jantung, perawatan pasca-henti jantung, aritmia, baik takiaritmia maupun bradiaritmia, serta sindrom koroner akut (SKA).

"Harapan kami, seluruh peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan keterampilan tersebut di lapangan. Dengan begitu, kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat terus meningkat," katanya.

dr. Johan menambahkan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar seiring perkembangan ilmu kedokteran dan meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

Ia menilai, keberhasilan penanganan kasus kegawatdaruratan sering kali ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan tindakan pada menit-menit pertama.

"Golden period dalam penanganan pasien kritis sangat menentukan. Ketika perawat memiliki kompetensi yang baik, peluang keselamatan pasien tentu akan semakin besar," imbuhnya.

Pelatihan ACLS dan BTCLS tersebut menghadirkan narasumber dari EMT 118 Surabaya yang selama ini dikenal aktif memberikan pelatihan penanganan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan di berbagai daerah.

Melalui pelatihan ini, RSUD dr Darsono Pacitan berharap dapat terus meningkatkan mutu layanan kesehatan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan.(*)

Tombol Google News

Tags:

RSUD dr Darsono Pacitan Dr Johan Tri Putranto ACLS BTCLS Emt 118 Surabaya Perawat Kegawatdaruratan Henti Jantung trauma pacitan Berita pacitan Info Pacitan