KETIK, SURABAYA – Sore itu, sekitar pukul 15.00 WIB, tubuh terasa jauh lebih berat dari biasanya. Aktivitas kuliah seharian seolah menguras tenaga, menyisakan rasa lelah. 

Biasanya, saya menunggu bus TransJatim di Halte Siwalankerto Surabaya karena halte ini merupakan titik terdekat dari kampus saya. 

Namun hari itu berbeda. Kaki terasa enggan diajak berdiri terlalu lama, dan pikiran hanya menginginkan satu hal sederhana, duduk sepanjang perjalanan pulang.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memesan ojek online menuju Halte Dukuh Menanggal. Harapannya jelas peluang mendapatkan kursi akan lebih terbuka. 

Sesampainya di sana, suasana sudah cukup ramai. Barisan penumpang berdiri rapi, sebagian tampak sama lelahnya. Saya pun ikut menunggu.

Baca Juga:
Perkuat Kesehatan Atlet, KONI Surabaya Gandeng Rumah Sakit dan BPJSTK

Satu bus datang, penuh. Saya biarkan lewat. Bus kedua datang, kondisinya tidak jauh berbeda. Saya tetap menahan diri. Baru di bus berikutnya, saya memberanikan diri naik.

Beruntung, kali ini saya mendapatkan tempat duduk. Kursinya berada di baris kedua dari belakang. Saat duduk, ada rasa lega yang langsung terasa. Bus pun mulai melaju perlahan meninggalkan halte.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ketika bus putar balik di kawasan Jalan Ahmad Yani, lalu sampai di Halte Siwalankerto, pintu terbuka sehingga penumpang naik dalam jumlah cukup banyak. 

Suasana di dalam bus kembali padat. Orang-orang berdiri di lorong tengah, berpegangan pada handgrip, mencoba menjaga keseimbangan.

Baca Juga:
60 Remaja Masjid Se-Jatim Digembleng di Al Yasmin Surabaya, Siap Kuasai Digital dan Jadi Penggerak Masjid Modern

Di tengah kondisi itu, seorang ibu berjalan mendekati tempat duduk saya. Ia kemudian bertanya pelan, “Mbak, turun di mana?”

Saya yang masih Lelah pun menjawab singkat, “Di terminal Mojokerto, Bu,” jawab saya.

Ibu itu hanya mengangguk pelan. Tidak ada ekspresi lain yang saya tangkap. Setelah itu, ia bergeser sedikit ke depan, berdiri di dekat seorang bapak yang berada di tengah bus.

Perjalanan kembali berlanjut. Beberapa saat kemudian, bus berhenti di Halte Medaeng. Ada penumpang yang turun, dan kursi yang ditinggalkannya langsung ditempati oleh ibu tadi. Situasi pun kembali terasa biasa.

Namun, tak lama setelah bus berjalan lagi, suara bapak di samping ibu-ibu tadi terdengar cukup jelas dari arah tengah bus.

“Memang anak zaman sekarang, tak akui pintar-pintar… tapi nggak punya adab. Masa yang tua nggak di kasih tempat duduk,” ujar bapak tersebut.

Kalimat itu terasa seperti menghantam tiba-tiba. Tidak ada nama yang disebut, tetapi entah mengapa, saya merasa arah pembicaraan itu mengarah pada saya. 

Mungkin karena percakapan sebelumnya. Mungkin karena posisi saya yang duduk sejak awal.

Saya tertegun. Duduk diam, menatap lurus ke depan, tetapi pikiran mulai berisik. Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan antara kaget, bingung dan sedikit tersinggung. Namun di sisi lain, tubuh saya masih terlalu lelah untuk bereaksi.

Saya tidak menjawab. Tidak menoleh. Tidak melakukan apa-apa.

Perjalanan tetap berjalan seperti biasa. Bus terus melaju, penumpang berganti, dan suara mesin menjadi latar yang monoton. Sementara itu, saya hanya mencoba menganggap kejadian tadi sebagai angin lalu, sesuatu yang lewat begitu saja tanpa perlu disimpan terlalu dalam.

Namun kenyataannya, tidak semua hal bisa benar-benar berlalu.

Dari sekian banyak perjalanan yang saya lakukan dengan TransJatim, mungkin ada banyak kejadian kecil yang kurang menyenangkan. Tapi momen itu, dengan kalimat sederhana yang terlontar di tengah bus yang penuh, justru menjadi salah satu paling membekas.

Di perjalanan pulang yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, saya justru belajar bahwa lelah tidak hanya datang dari aktivitas, tetapi juga dari hal-hal tak terduga yang muncul di tengah perjalanan. (*)