KETIK, YOGYAKARTA – Kemampuan matematika siswa Indonesia kembali mendapat sorotan serius. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor numerasi Indonesia hanya berada di angka 366, tertinggal jauh dari rata-rata Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mencapai 472.
Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mampu mencapai kompetensi minimum level 2. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar masih kesulitan memahami konsep dasar matematika yang seharusnya menjadi fondasi berpikir logis.
Padahal, matematika tidak sekadar soal angka. Disiplin ilmu ini berperan penting dalam membentuk kemampuan analitis, logika berpikir, serta keterampilan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Guru Besar Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, menilai rendahnya capaian tersebut tidak lepas dari kualitas proses pembelajaran di kelas.
Baca Juga:
Bukan Sekadar Sulit, Ini Penyebab Siswa Indonesia Takut Matematika"Peran guru menjadi faktor penentu dalam membangun minat dan pemahaman siswa terhadap matematika. Ketika kualitas pengajaran tidak optimal, maka dampaknya akan langsung terasa pada rendahnya kemampuan siswa," ujar Indah.
Ia juga menyoroti bahwa sistem pembelajaran yang masih bertumpu pada hafalan menjadi salah satu penyebab utama. Metode tersebut membuat siswa cenderung pasif dan sulit memahami konsep secara mendalam.
Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Lemahnya kemampuan matematika berpotensi berdampak luas pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kemampuan berpikir logis yang rendah dapat memengaruhi cara seseorang dalam mengambil keputusan, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik.
“Jika kemampuan tersebut lemah, bisa dibayangkan dampaknya dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, hingga lingkungan. Pengambilan keputusan atau penerapan kebijakan memerlukan argumentasi atas dasar pemikiran yang logis,” terangnya.
Baca Juga:
Bukan Soal Uang, Ini Penyebab Pola Makan Buruk dan Lonjakan Penyakit di Usia MudaData ini menjadi peringatan keras bahwa persoalan pendidikan matematika di Indonesia membutuhkan perhatian serius dan langkah perbaikan yang sistematis. (*)