KETIK, BOGOR – Kualitas daging kurban sangat bergantung pada proses penanganan sejak penyembelihan hingga distribusi kepada masyarakat. Penanganan yang tepat diperlukan untuk memastikan daging tetap aman, higienis, dan layak dikonsumsi.
Dosen Fakultas Peternakan IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Dr. Muhamad Baihaqi, menilai praktik penyembelihan dan pengolahan hewan kurban masih sering dilakukan di area terbuka dengan standar kebersihan yang kurang memadai.
“Penyembelihan dan pengolahan sering dilakukan di tempat terbuka tanpa standar sanitasi yang baik, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi mikroba,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Minggu, 31 Mei 2026.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, panitia kurban perlu memisahkan area kotor dan area bersih selama proses pengolahan. Area penyembelihan serta pengulitan sebaiknya dipisahkan dari lokasi pemotongan dan pengemasan daging guna mencegah pencemaran mikroba.
Selain menjaga kebersihan lokasi pengolahan, Dr. Baihaqi juga menekankan pentingnya pengemasan yang benar saat distribusi daging kurban. Ia mengingatkan agar daging tidak dicampur dengan jeroan dalam satu kemasan.
“Daging sering kali dicampur dengan jeroan saat dikemas. Ini berisiko tinggi karena jeroan dapat mempercepat kontaminasi,” jelasnya.
Ia menyarankan panitia segera mendistribusikan daging setelah proses pemotongan selesai. Sementara itu, masyarakat yang menerima daging kurban dianjurkan memisahkan daging dari jeroan dan tulang, membersihkannya, lalu menyimpan di freezer jika belum akan diolah.
Kondisi Ternak Sebelum Disembelih Juga Berpengaruh
Menurut Dr. Baihaqi, kualitas daging tidak hanya ditentukan saat proses pengolahan, tetapi juga dipengaruhi kondisi ternak sebelum disembelih. Karena itu, ternak perlu mendapatkan pakan dan air minum yang cukup, sarana transportasi yang layak, serta waktu istirahat yang memadai agar tidak mengalami stres.
Ia juga menyoroti proses distribusi daging kurban yang umumnya dilakukan tanpa sistem pendingin. Kondisi tersebut membuat panitia harus bergerak cepat dalam membagikan daging agar kualitasnya tetap terjaga dan tidak mudah rusak.
Di sisi lain, sejumlah lembaga kurban mulai menerapkan inovasi dengan mengolah daging menjadi produk siap saji seperti rendang atau dendeng kaleng. Meski demikian, metode tersebut memerlukan biaya dan peralatan yang lebih besar dibandingkan pembagian daging segar.
“Penanganan yang baik tidak hanya menjaga kualitas daging, tapi juga menjadi bagian dari ibadah yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” tuturnya.
