Situs Persada Bung Karno Kediri Gelar Metode Bisu, Wisata Edukatif Ajak Pengunjung Belajar dari Keheningan

6 Februari 2026 19:15 6 Feb 2026 19:15

Thumbnail Situs Persada Bung Karno Kediri Gelar Metode Bisu, Wisata Edukatif Ajak Pengunjung Belajar dari Keheningan

Suasana Pengunjung Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri saat menjalani ritual keheningan sebagai media belajar sejarah, karakter, dan jati diri bangsa, Kamis 5 Februari 2026. (foto : Kushartono for Ketik.com).

KETIK, KEDIRI – Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno yang berlokasi di Desa Pojok Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Jawa Timur menawarkan pengalaman belajar dengan metode bisu.

Melalui program bertajuk Wisata Bisu, pengelola situs bersejarah ini mengajak pengunjung menjalani ritual keheningan sebagai media belajar sejarah, karakter, dan jati diri bangsa.

Wisata Bisu dikemas sebagai perjalanan reflektif berdurasi sekitar dua jam. Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak menahan kata, menenangkan diri, serta membuka kepekaan batin di lingkungan situs yang memiliki keterkaitan erat dengan jejak sejarah Bung Karno.

Dalam suasana sunyi, pengunjung tidak hanya menyaksikan peninggalan sejarah, tetapi juga diajak merasakan makna, nilai, dan pesan kebangsaan yang melekat pada Situs Persada Bung Karno Kediri.

Program ini merupakan pengembangan dari Pilot Project Bimbingan dan Pelatihan Laboratorium Pendidikan Karakter Jati Diri Bangsa yang sebelumnya dilaksanakan selama satu hari penuh. Melalui Wisata Bisu, konsep tersebut diringkas menjadi pengalaman singkat yang lebih praktis dan mudah diikuti, khususnya bagi pelajar dan generasi muda.

Ketua Umum Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno Kediri, Suhardono menjelaskan bahwa gagasan Wisata Bisu lahir dari keprihatinan terhadap kehidupan modern yang semakin bising dan serba cepat.

"Di tengah banyaknya suara dari luar, kita sering kehilangan kemampuan untuk mendengar ke dalam. Keheningan di situs ini kami jadikan ruang belajar agar peserta bisa lebih peka terhadap diri, sejarah, dan nilai-nilai kebangsaan," katanya, Jumat 6 Februari 2026.

Selama kegiatan, peserta mengikuti tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah prosesi hening atau ritual bisu yang melatih ketenangan, adab, serta pengendalian diri. Tahap kedua berupa storytelling kontekstual tentang perjalanan hidup dan semangat perjuangan Bung Karno yang memiliki keterkaitan dengan situs tersebut.

Tahap ketiga adalah internalisasi jati diri, yakni refleksi personal yang bertujuan menanamkan nilai karakter, kesadaran kebangsaan, dan pemaknaan terhadap sejarah bangsa.

Pendekatan yang digunakan dalam Wisata Bisu bersifat experiential learning. Peserta tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi terlibat langsung dalam pengalaman batin dan suasana situs bersejarah.

Salah satu peserta, Faridatul Kholidah, siswi SMA asal Jombang mengaku merasakan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan kunjungan wisata pada umumnya.

"Biasanya kalau berwisata kita banyak bicara dan foto-foto. Di sini justru diminta diam, dan dari situ saya merasa lebih memahami makna tempat ini," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Program Pekat Wisata Bisu, Kushartono menilai bahwa keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang pembelajaran yang selama ini jarang disentuh dalam dunia pendidikan.

"Dalam diam, logika diistirahatkan dan rasa diberi ruang. Dari sanalah nilai-nilai sejarah dan karakter bisa lebih mudah diterima dan direnungkan," jelasnya.

Kushartono menambahkan, banyak sekolah saat ini menghadapi tantangan dalam menemukan metode pendidikan karakter yang tidak membosankan dan tidak sekadar ceramah di kelas. Wisata Bisu menawarkan metode olah rasa berbasis pengalaman langsung.

"Data menunjukkan memori manusia bertahan jauh lebih kuat melalui pengalaman langsung dibandingkan hanya mendengar. Karena itu, Wisata Bisu menjadi metode pendidikan karakter yang relevan dan menarik," imbuhnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Situs Ndalem Pojok kediri ritual Bisu Soekarno