KETIK, MALANG – Kian maraknya penggunaan teknologi akal imitasi (AI) menghadirkan tantangan baru bagi seniman. Para seniman dinilai harus memberi nilai dalam tiap karyanya. Hal ini mengemuka dalam sesi diskusi penutupan Pameran Seni Rupa “Mirrors 25” yang digelar Dewan Kesenian Malang (DKM), Senin, 5 Januari 2026.
Seniman senior, Anthony Wibowo, menegaskan bahwa karya seni tidak cukup hanya berupa objek visual. Karya ini juga harus menghadirkan nilai.
“Saya tidak mau menjadi seniman yang hanya mencetak benda tetapi juga harus benda yang membawakan nilai,” ujarnya.
Anthony menyebut, dalam era digital dan AI ini, batas-batas seni kian cair. Jika sebelumnya karya seni identik dengan kanvas, saat ini pelbagai format dapat menjadi media. Namun, ia menekankan bahwa niat dan nilai tetap menjadi fondasi utama.
“Kalau kita dalam hidup ini mempunyai niat yang baik, bekerja dengan baik, dan niat yang baik, maka sang kebaikan itu akan menurunkan berkatnya,” tambah Anthony.
Lebih lanjut, menurut Anthony, menciptakan karya seni juga berkaitan dengan kesadaran membangun kebudayaan secara bersama-sama. Menurutnya, seniman tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh melalui relasi, ruang apresiasi, dan kontribusi pada masyarakat.
“Kalau seniman itu berkumpul, kita sedang menghimpun pribadi-pribadi yang menyaingi, memulai kesadaran untuk bersama-sama membangun kebudayaan,” katanya.
Anthony juga menyinggung makna kebudayaan sebagai kesadaran untuk memelihara dan menaati nilai-nilai kehidupan bersama yang luhur. Nilai tersebut, menurutnya, hadir dalam seni, agama, maupun spiritualitas. (*)
