Pecinta Sejarah Kota Malang Kritik Busana Khas Bernuansa Kolonial, Dinilai Tak Pas untuk Pribumi

Editor: Dendy Ganda Kusumah

6 Apr 2026 13:46

Thumbnail Pecinta Sejarah Kota Malang Kritik Busana Khas Bernuansa Kolonial, Dinilai Tak Pas untuk Pribumi
Busana khas daerah Malang yang diluncurkan pada peringatan HUT ke-112 Kota Malang, 1 April 2026 lalu. (Foto: Dokumen Ketik.com)

KETIK, MALANG – Peluncuran busana khas Kota Malang pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112, 1 April 2026, memantik beragam tanggapan dari masyarakat. Salah satu sorotan datang dari pecinta sejarah Kota Malang, Restu Respati, yang menilai konsep busana bernuansa kolonial tersebut kurang tepat jika dikaitkan dengan identitas masyarakat pribumi Malang.

Menurut Restu, konsep busana yang memadukan unsur kolonial dan tradisional memang menghadirkan kesan baru dalam identitas visual daerah. Namun, ia mempertanyakan relevansi nuansa kolonial Belanda yang justru diangkat menjadi simbol resmi busana khas Kota Malang.

“Kalau dikaitkan dengan sejarah, busana bernuansa kolonial itu justru merepresentasikan struktur sosial feodal di masa lalu, ketika masyarakat dibagi dalam kelas-kelas tertentu, mulai dari Eropa, Timur Asing, hingga pribumi,” ujar Restu.

Ia juga menyoroti adanya pembagian desain busana berdasarkan tingkatan jabatan, mulai dari eselon II dan DPRD, eselon III, hingga eselon IV, pelaksana, dan masyarakat umum. Pembagian itu, menurutnya, memunculkan kesan stratifikasi sosial yang mengingatkan pada pembagian kasta di era kolonial.

Baca Juga:
Grand Mercure Malang Mirama Turut Semarakkan HUT ke-112 Kota Malang, Dukung Peran Kota di Level Nasional dan Internasional

“Ketika desain dibedakan menurut kelas pemakainya, kesannya seperti ada pembagian strata. Ini yang menurut saya perlu menjadi perhatian,” katanya.

Busana khas Kota Malang sendiri resmi diperkenalkan Pemerintah Kota Malang sebagai identitas budaya baru daerah. Konsepnya menggabungkan sentuhan kerajaan yang pernah berkembang di Malang dengan estetika kolonial Belanda sebagai bagian dari sejarah perjalanan kota.

Meski melontarkan kritik, Restu tetap mengapresiasi hasil karya tim perancang. Ia menyebut desain busana khas tersebut tampil mewah dan menghadirkan kesan berbeda dibanding busana khas daerah lain.

“Secara visual sangat wah, mewah, dan memberi kejutan. Ini sesuatu yang baru bagi identitas busana daerah,” ungkapnya.

Baca Juga:
HUT ke-112 Kota Malang, Kisah Ahmad Penjual Cimol yang Menemukan Penghidupan di Kota Pendidikan

Sebagai pecinta sejarah, Restu juga mengaitkan fenomena ini dengan perjalanan panjang relasi penguasa Jawa dan kolonial Belanda, mulai era Sultan Agung hingga masa Amangkurat II yang dikenal dekat dengan VOC.

Menurutnya, penggunaan nuansa kolonial dalam simbol resmi daerah perlu dipikirkan secara matang agar tidak sekadar menonjolkan estetika, tetapi juga sensitif terhadap memori sejarah masyarakat.

“Pertanyaannya, apakah budaya feodal yang sudah berusia ratusan tahun itu masih pantas dijadikan simbol hari ini? Jawabannya tentu kembali kepada masyarakat Kota Malang,” pungkasnya.

Baca Sebelumnya

Polemik MBG di Sampang Cuma Pakai Kertas, Satgas: Tergantung Kesepakatan

Baca Selanjutnya

Pemkab Bandung Siapkan Beasiswa Bedas Calakan

Tags:

Restu Respati Baju Khas Kota Malang Baju Daerah Kota Malang HUT Ke-112 Kota Malang HUT Kota Malang

Berita lainnya oleh Dendy Ganda Kusumah

Peluang Berkontribusi di Dunia Pendidikan, Pemkot Malang Buka Seleksi Anggota Dewan Pendidikan 2026–2030

15 April 2026 18:56

Peluang Berkontribusi di Dunia Pendidikan, Pemkot Malang Buka Seleksi Anggota Dewan Pendidikan 2026–2030

Arema FC Resmi Jalin Kerja Sama dengan RS Hermina Tangkubanprahu Malang

14 April 2026 06:49

Arema FC Resmi Jalin Kerja Sama dengan RS Hermina Tangkubanprahu Malang

Melampaui Kebaya: R.A. Kartini dan Relevansi Kesetaraan Gender Ditinjau dari Stereotype Content Model

14 April 2026 06:29

Melampaui Kebaya: R.A. Kartini dan Relevansi Kesetaraan Gender Ditinjau dari Stereotype Content Model

Sekda Kabupaten Malang Budiar Anwar Kunjungi Graha Ketik, Tekankan Peran Media Kawal Pembangunan

13 April 2026 13:26

Sekda Kabupaten Malang Budiar Anwar Kunjungi Graha Ketik, Tekankan Peran Media Kawal Pembangunan

Mindful Living Tanpa Plastik

11 April 2026 20:13

Mindful Living Tanpa Plastik

Hujan Deras Disertai Es Turun di Sawojajar Kota Malang

9 April 2026 13:12

Hujan Deras Disertai Es Turun di Sawojajar Kota Malang

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H