KETIK, MOJOKERTO – Perjalanan pulang dari Surabaya ke Mojokerto selalu punya suasana berbeda. Setelah seharian beraktivitas, tubuh biasanya sudah mulai lelah, pikiran penuh dan satu-satunya yang diinginkan hanyalah sampai rumah dengan sedikit rasa nyaman.
Di tengah kondisi seperti itu, satu hal sederhana sangat saya sukai, mendapatkan tempat duduk di samping jendela. Bagi saya, kursi sebelah jendela selalu menjadi pilihan favorit. Mungkin, bukan hanya bagi saya, tapi juga sebagian penumpang lain.
Saat bus mulai bergerak meninggalkan perbatasan Surabaya, saya kerap menyandarkan tubuh ke sisi kaca. Dari sana, perjalanan terasa lebih hidup. Menjelang malam, lampu-lampu jalan mulai menyala, kendaraan saling beriringan dan lalu lintas padat menjadi pemandangan yang terus bergerak.
Dari balik jendela, saya bisa melihat bagaimana jalanan perlahan berubah dari hiruk-pikuk kota menuju jalur yang lebih lengang saat mendekati Mojokerto.
Kaca jendela seperti layar yang menampilkan potongan-potongan cerita. Saya bisa melihat pengendara motor yang tampak fokus menatap jalan, mobil melaju perlahan karena macet, hingga wajah-wajah lelah di balik kemudi.
Ada yang terlihat terburu-buru, ada yang pasrah mengikuti arus, dan ada pula yang sesekali menoleh ke kanan-kiri, seolah mencari celah di tengah kepadatan.
Di momen tertentu, saya juga pernah melihat kejadian di jalan seperti kendaraan yang berhenti mendadak. Semua itu terlihat sekilas, terbingkai oleh kaca jendela, membuat perjalanan terasa bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang banyak orang yang sedang menjalani perjalanan masing-masing.
Namun, bukan hanya pemandangan yang membuat kursi jendela terasa istimewa. Di tengah rasa lelah yang menumpuk, kaca bus menjadi tempat bersandar paling sederhana. Ketika kantuk datang, saya bisa memiringkan kepala dan membiarkannya bertumpu pada sisi jendela.
Getaran halus dari bus yang berjalan justru sering kali membuat mata semakin berat, seolah perjalanan ini menjadi waktu istirahat yang tidak direncanakan.
Posisi di samping jendela juga memberi sedikit ruang di tengah kepadatan. Saat bus penuh dan banyak penumpang berdiri di lorong, saya tidak terlalu merasa terdesak dari dua arah. Hanya satu sisi yang terbuka, sementara sisi lainnya terlindungi oleh dinding bus.
Hal kecil ini membuat perjalanan terasa sedikit lebih lega.
Sebaliknya, kursi yang paling tidak saya sukai adalah barisan paling belakang. Meskipun tetap berada di samping jendela, kenyamanannya jauh berbeda. Setiap kali bus melewati jalan yang bergelombang, getarannya terasa lebih kuat di bagian belakang.
Selain itu, posisi kursi yang memiliki sedikit jarak dengan dinding bus membuatnya kurang nyaman untuk bersandar, berbeda dengan kursi lainnya yang bisa langsung bertumpu pada sisi kaca.
Karena itu, bagi saya, duduk di samping jendela selain di barisan paling belakang tetap menjadi pilihan terbaik untuk menikmati perjalanan pulang yang singkat, namun penuh cerita. (*)
