Perjuangan Orang Tua Dampingi Anak UTBK di Universitas Brawijaya, Tanpa Bimbel Andalkan Doa dan Semangat

24 April 2026 21:58 24 Apr 2026 21:58

Diva Oktavia M., Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Perjuangan Orang Tua Dampingi Anak UTBK di Universitas Brawijaya, Tanpa Bimbel Andalkan Doa dan Semangat

Orang tua seorang peserta UTBK asal Blitar, Alex Dadang Kurniawan saat berfoto bersama anaknya yang usai mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Malang. (Foto: Suci/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Suasana pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) tak hanya dipadati peserta ujian, tetapi juga orang tua yang setia menunggu di luar area gedung dengan perasaan campur aduk antara harap dan cemas.

Di antara mereka, Alex Dadang Kurniawan, orang tua peserta asal Blitar, tampak sabar menanti anaknya yang tengah berjuang di ruang ujian. Ia mengaku, momen UTBK menjadi salah satu fase paling menegangkan sebagai orang tua.

“Pastinya waswas. Ada rasa bangga, senang, tetapi juga khawatir jika hasilnya tidak sesuai harapan. Namanya orang tua, pasti ingin anaknya bisa mencapai cita-citanya,” ujarnya.

Di balik harapan tersebut, tersimpan perjuangan yang tidak sederhana. Alex mengungkapkan, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu memberikan fasilitas tambahan seperti bimbingan belajar kepada sang anak. Namun, kondisi itu justru membentuk kemandirian yang kuat.

“Dia belajar sendiri, bahkan sampai dini hari. Membuat rangkuman, mencari materi dari YouTube, TikTok, dan berbagai sumber lain. Semua dilakukan secara otodidak tanpa bimbel. Itu yang membuat saya benar-benar kagum,” katanya.

Menurutnya, semangat belajar anaknya menjadi hal yang paling membanggakan, melampaui sekadar hasil akhir yang nanti akan diperoleh. Ia melihat adanya tekad kuat dari sang anak untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.

Sebagai orang tua, Alex menyadari bahwa dukungan yang dapat diberikan tidak selalu dalam bentuk materi. Kehadirannya di lokasi ujian, menurutnya, menjadi simbol dukungan moral agar anaknya merasa tidak berjuang sendirian.

“Saya hanya bisa mendampingi dan mendoakan. Yang penting dia tahu bahwa kami ada untuknya, apa pun hasilnya nanti,” ungkapnya.

Di sisi lain, Alex juga menaruh kepercayaan terhadap pelaksanaan UTBK di UB. Ia menilai sistem pengawasan yang diterapkan sudah cukup ketat dan profesional sehingga mampu meminimalkan potensi kecurangan.

“Tadi saya lihat ada pemeriksaan seperti metal detector. Jadi saya yakin prosesnya berjalan adil. Kalau memang yang diadu kemampuan, seharusnya fair untuk semua peserta,” jelasnya.

Meski menaruh harapan besar, Alex tetap berusaha realistis menghadapi berbagai kemungkinan. Ia mengaku telah menyiapkan rencana cadangan apabila hasil UTBK belum sesuai harapan.

“Kalau belum berhasil, bukan berarti selesai. Bisa coba lagi tahun depan atau mengambil jalur lain sesuai kemampuan. Yang penting saya harus menguatkan mental anak saya, karena dunia tidak berakhir di sini,” tegasnya.

Tombol Google News

Tags:

UTBK 2026 #UTBK Universitas Brawijaya Universitas Brawijaya #Kisah UTBK 2026 #Info Malang #Berita Malang