KETIK, MALANG – Balewiyata Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Malang menjadi saksi bisu atas persaudaraan lintas iman dan jejak intelektual yang terbangun di Indonesia. Memori tentang Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur hingga saat ini masih tersimpan rapi.
Balewiyata sendiri merupaka pusat pendidikan teologi tertua di Pulau Jawa. Sebelum berdiri di Jalan S Supriadi Nomor 28, Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, sekolah pendidikan untuk pemuka umat (voorhanger) Kristen oleh lembaga pengabaran Injil Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) telah tumbuh di Kediri pada 1925.
Kemudian Balewiyata berpindah ke Malang dan diresmikan pada 6 Januari 1927. Berkat sekolah teologi ini, Majelis Agusng GKJW pun akhirnya lahir pada tahun 1931.
Ds Dr Barend Martinus Schuurman dikenal sebagai salah satu pendeta sekaligus pendiri Balewiyata yang gugur pada masa pendudukan Jepang. Ia kemudian disemayamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sukun Nasrani atau Kuburan Londo.
Pendeta Natanael Hermawan selaku Ketua Majelis Agung GKJW menjelaskan kisah menarik tentang kehadiran Gus Dur, Sang Guru Bangsa di Balewiyata. Sebelum menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur rupanya sempat mengajar para pendeta pada 1974-1981.
"Ada catatan sejarah bahwa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengajar di Kantor Majelis Agung GKJW selama 7 tahun. Beliau mengajarkan tentang Teologi Islam atau Islamologi kepada para pendeta di sini," ujarnya, Sabtu, 28 Februari 2026.
Saat itu, Gus Dur memiliki pemahaman bahwa untuk belajar tentang Islam, harus bersumber dari pengajar yang memiliki latar belakang sebagai seorang Islam. Negitu pula ketika ingin belajar tentang ajaran Kristen maupun ajaran lainnya, harus langsung dari pemeluk agama tersebut.
Terdapat salah satu ruangan khusus di Balewiyata yang saat ini selalu dibuka untuk umum. Di ruangan tersebut, terdapat sebuah meja dan kursi kerja, dilengkapi dengan beberapa foto jadul bergambarkan Gus Dur dan para pendeta.
Ruangan tersebut ternyata dulunya adalah tempat Gus Dur beristirahat. Pihak Balewiyata dengan sengaja dan secara khusus tetap merawat ruangan tersebut sebagai sebuah kenangan persaudaraan yang terjalin antara Islam dan Kristen.
"Di ruangan tersebut, Gus Dur beristirahan selama 7 tahun. Masih kami rawat dan jaga. Ada meja, kursi, ruangan mengajar beliau juga tetap kami rawat karena menjadi hal yang sangat berharga," ungkapnya.
Bahkan saat Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI, ia masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke Balewiyata Malang. Ia menjelaskan bahwa selama mengajar Gus Dur dikenal senang mencerminkan pemikirannya yang terbuka dan menghargai otoritas keilmuan.
Menurutnya jejak sejarah ini bukan sekadar cerita masa lalu, namun menjadi simbol kuat persaudaraan lintas iman yang hidup di Kota Malang. Nilai-nilai dialog, keterbukaan, dan saling belajar yang diwariskan Gus Dur diharapkan terus menginspirasi generasi muda.
"Harapannya juga semua bisa mengetahui bahwa beliau pernah bersama-sama di Kantor Majelis Agung GKJW ini. Kami napak tilas terhadap para pendahulu kami yang sudah menjalin persaudaraan, menjalin relasi yang baik, sehingga generasi pada saat ini bisa meneruskan, melestarikan persaudaraan ini," Pendeta Natanael mengakhiri. (*)
