KETIK, MALANG – Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, Indra Permana, menyoroti lonjakan harga daging sapi di pasaran. Berdasarkan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukannya, kenaikan harga tersebut dipicu oleh menipisnya ketersediaan sapi hidup.
Indra menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menunjukkan sikap tegas dalam merespons fluktuasi harga tersebut. Mengingat, daging sapi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat memengaruhi daya beli masyarakat.
Terlebih banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi kenaikan harga daging sapi yang merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Apabila terus dibiarkan maka semakin banyak masyarakat yang terdampak. Imbasnya, stabilitas ekonomi di Kota Malang juga berpotensi terganggu.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, maka bukan hanya pelaku usaha yang terdampak, tapi stabilitas ekonomi daerah juga bisa terganggu,” ujar Indra pada Sabtu, 18 April 2026.
Politisi PKS tersebut menjelaskan bahwa saat ini terjadi ketimpangan antara suplai dan permintaan. Penurunan stok sapi hidup di pasar yang berbenturan dengan tingginya permintaan masyarakat otomatis mengerek harga ke titik tertinggi.
Dampaknya kian meluas hingga ke sektor UMKM dan kuliner. Mulai dari pedagang bakso, restoran, hingga kafe harus menghadapi ketidakpastian harga dan terancam dengan peningkatan biaya produksi.
“Kita tidak boleh membiarkan pelaku usaha berjalan sendiri. Negara harus hadir, menjaga dari hulu sampai hilir, karena di situlah denyut ekonomi rakyat berada," jelasnya.
Menurutnya pemerintah harus bergerak cepat dalam mengatasi tingginya harga daging sapi. Salah satunya dengan langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi agar terjadi kestabilan harga.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan pasar, tapi sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk hadir dan melindungi pelaku usaha serta masyarakat," tegasnya. (*)
