Dunia pendidikan dan dunia kerja kini sedang dibanjiri berbagai topik diskusi seputar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kehadiran AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga dapat mempengaruhi preferensi pendidikan yang diminati oleh generasi muda.
Kondisi tersebut tentu turut menimbulkan pertanyaan, apakah pendidikan perikanan dan kelautan masih relevan di era AI? Pertanyaan itu wajar, mengingat banyak profesi mulai mengalami transformasi akibat otomatisasi dan digitalisasi.
Namun, jika dicermati lebih dalam, AI justru menghadirkan peluang besar bagi perkembangan sektor perikanan dan kelautan.
Tantangannya bukan terletak pada apakah bidang ini akan tergantikan, melainkan bagaimana institusi pendidikan mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk mencetak lulusan yang kompeten, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Gelombang AI dan Perubahan Lanskap Pendidikan Tinggi
Baca Juga:
Pesantren sebagai Rumah NU: Menyambut Muktamar Ke-35Perkembangan AI telah mengubah wajah pendidikan tinggi secara fundamental. Berbagai aktivitas akademik, mulai dari pencarian literatur, analisis data, hingga penyusunan laporan, kini dapat dibantu oleh sistem AI.
Di banyak negara, penggunaan AI oleh mahasiswa bahkan telah menjadi fenomena umum. Seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.com (2025), sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa sekitar 92% mahasiswa telah menggunakan teknologi AI generatif dalam proses pembelajaran mereka.
Sementara itu, laporan The Future of Jobs Report 2025 dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) memperkirakan bahwa pada tahun 2030 akan terjadi disrupsi pada sekitar 22% pekerjaan global.
Di sisi lain, sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan lainnya akan tergantikan oleh perubahan teknologi dan otomatisasi. Data tersebut menunjukkan bahwa AI bukanlah sebuah ancaman, namun faktor transformasi yang telah mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Baca Juga:
Piala AFF 2026: John Herdman Harus Antisipasi Set Piece VietnamSudah seharusnya perguruan tinggi tidak hanya cukup menghasilkan lulusan yang hanya menguasai teori, tetapi juga harus mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, memiliki kemampuan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan, serta menjunjung adab yang tinggi sebagai fondasi dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara etis dan bertanggung jawab.
Pendidikan Perikanan dan Kelautan Tetap Relevan
Di tengah dahsyatnya gelombang digitalisasi, pendidikan tinggi di bidang perikanan dan kelautan justru memiliki posisi yang strategis, khususnya bagi Indonesia yang merupakan negara maritim terbesar di dunia. Sektor ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan, penggerak ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.
Pada tingkat global, kebutuhan terhadap pangan akuatik (blue food) juga terus meningkat. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan bahwa produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya (akuakultur) dunia mencapai rekor 223,2 juta ton pada tahun 2022.
Menariknya, untuk pertama kalinya akuakultur telah melampaui perikanan tangkap sebagai sumber utama produksi ikan dunia dengan kontribusi sekitar 130,9 juta ton atau 51% dari total produksi hewan akuatik. Ini memperkuat harapan bahwa akuakultur dapat memenuhi permintaan global yang terus meningkat akan produk laut.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa sekarang dan di masa depan, masih dibutuhkan tenaga profesional di bidang perikanan budidaya, pengelolaan sumber daya laut, teknologi hasil perikanan, konservasi pesisir, maupun ekonomi perikanan dan kelautan.
AI memang mampu mengolah ribuan data dalam waktu singkat. Namun, AI tidak mampu menggantikan sepenuhnya pemahaman biologi, ekologi, dan sosial yang menjadi inti ilmu perikanan dan kelautan.
Sebagai contoh adalah laut yang bukan hanya sebatas kumpulan data. Laut adalah ekosistem kompleks yang membutuhkan pengamatan lapangan, pemahaman terhadap dinamika lingkungan, serta kemampuan mengambil keputusan berbasis kondisi nyata. Di sinilah peran manusia tetap menjadi faktor utama.
AI sebagai Mitra Transformasi Perikanan dan Kelautan
AI tidak perlu dipandang sebagai pesaing, tetapi menjadi mitra strategis dalam pengembangan dunia perikanan dan kelautan. Dalam sektor akuakultur, AI dapat dimanfaatkan untuk memantau kualitas air secara real time, mendeteksi penyakit ikan/udang lebih dini, mengoptimalkan pemberian pakan, hingga memprediksi performa produksinya.
Sedangkan dalam sektor perikanan tangkap, AI dimanfaatkan dalam teknologi penginderaan jauh, pemetaan daerah penangkapan ikan yang lebih akurat, serta pemantauan perubahan ekosistem laut secara berkelanjutan.
Dalam berbagai riset juga menunjukkan bahwa AI dapat membantu analisis data oseanografi, pemodelan perubahan iklim, maupun simulasi pengelolaan sumber daya perikanan yang lebih presisi. Hal ini menandakan bahwa masa depan perikanan dan kelautan bukanlah “manusia versus AI”, melainkan “manusia bersama AI”.
Inilah yang perlu direspon secara cepat oleh pendidikan tinggi bidang perikanan dan kelautan, salah satunya dengan memasukkan kurikulum teknologi AI dalam setiap prodi.
Mahasiswa perikanan masa depan tidak cukup hanya memahami kualitas air, nutrisi ikan, atau ekologi laut. Mereka juga perlu dilatih membaca dashboard data, mengoperasikan sistem pemantauan berbasis sensor, serta memanfaatkan AI untuk mendukung pengambilan keputusan.
Menyiapkan Generasi Bahari yang Cerdas dan Beradab
Tantangan terbesar pendidikan perikanan dan kelautan saat ini bukanlah mempertahankan eksistensinya, melainkan mempercepat transformasinya.
Kemudian ada yang lebih penting lagi sebagai fondasi utama Perguruan Tinggi, yakni penanaman adab. Mahasiswa perlu dibekali dengan nilai kejujuran akademik, tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap lingkungan, serta etika profesi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.
Namun pada akhirnya, masa depan pendidikan perikanan dan kelautan tidak tergantung sejauh mana perkembangan teknologi AI, melainkan sejauh mana lembaga pendidikan dapat menyesuaikan diri dengan menghasilkan sumber daya manusia yang dapat mengelola kekayaan laut Indonesia secara cerdas, produktif, dan beradab.
Kita membutuhkan lulusan yang mampu membaca data analisis dan mengoperasikan sistem AI, tetapi juga memiliki integritas dalam menjaga kelestarian laut.
AI mungkin mampu menggantikan sebagian pekerjaan manusia, tetapi AI tidak dapat menggantikan empati, tanggung jawab, kebijaksanaan, dan akhlak. Di tengah gelombang kecerdasan buatan yang terus menguat, pendidikan perikanan dan kelautan tetap memiliki eksistensi yang kokoh.
Hal ini dikarenakan tugas institusi tersebut bukan hanya mencetak insan yang terampil dan cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk generasi bahari yang beradab, beretika, dan bertanggung jawab terhadap masa depan laut Indonesia.
*) Riza Rahman Hakim merupakan Dosen Jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)