KETIK, JAKARTA – Perjalanan ibadah haji yang dijalani Figa Danang Hidayatulloh (26), jamaah termuda asal Kabupaten Pacitan, menjadi lebih dari sekadar menunaikan rukun Islam. 

Di Tanah Suci, khususnya saat berada area Raudhah di depan makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi, Madinah, Figa tak mampu menahan haru saat mengingat sosok ayahnya yang telah wafat dan tak sempat berhaji.

Figa, warga Dusun Ganang, Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari, berangkat menunaikan ibadah haji dengan menggantikan almarhum ayahnya yang meninggal dunia enam tahun lalu. 

Kesempatan itu menjadi amanah sekaligus kerinduan yang terus ia bawa sepanjang perjalanan spiritualnya.

“Setiap di Raudhah dan saat berkeliling di Masjid Nabawi, saya selalu teringat bapak. Rasanya ingin sekali mengajak beliau ke sana, ziarah bersama,” tuturnya di Madinah kepada Ketik.com, Rabu, 6 Mei 2026.

Baca Juga:
Kakanwil Kemenag Jatim Jenguk Jemaah Haji yang Sakit, Pastikan Layanan Kesehatan Optimal

Di titik yang diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa itu, Figa memanjatkan doa-doa terbaik untuk sang ayah. 

Ia memohon ampunan dosa, ketenangan di alam kubur, hingga perlindungan dari siksa api neraka.

“Doa pertama saya untuk kanjeng nabi, lalu khusus untuk ayah agar diampuni dosa-dosanya dan dijauhkan dari jilatan api neraka,” ucapnya dengan penuh harap.

Rasa kehilangan itu semakin terasa karena sejak awal, ibadah haji sejatinya adalah rencana sang ayah. 

Baca Juga:
Sengketa Goa Gong Berakhir Damai, Disperkimtan Pacitan Akui Keliru Identifikasi Lahan

Namun takdir berkata lain, dan Figa lah yang akhirnya melanjutkan niat suci tersebut.

Bak diberikan jalan terang oleh sang maha berkehendak.

Di tengah haru yang ia rasakan, Figa banyak menemukan keberkahan dari perjalanan hajinya.

Diantaranya adalah, kehangatan dan kebaikan luar biasa dari orang-orang di Tanah Suci.

Ia menyebut pengalaman itu sebagai salah satu hal paling membekas dalam ingatannya.

Saat menunggu waktu salat di Masjid Nabawi, ia kerap melihat warga setempat maupun jamaah dari negara lain membagikan makanan dan minuman secara gratis.

“Ada yang membawa air zam-zam, kurma satu dus, kismis, sampai kopi hangat. Mereka keliling dan membagikan ke jamaah. Kalau kita tanya, mereka bilang ‘halal, halal’, artinya gratis,” katanya.

Tak hanya di area masjid, kebaikan itu juga ia rasakan di luar.

Ia pernah dibuat terkejut saat seorang pria tak dikenal membayarkan makanan yang hendak ia beli di sebuah supermarket.

“Saya cuma mau beli satu potong ayam. Tapi bapak itu malah membayarkan dan tidak mau saya ganti. Setelah itu langsung pergi sambil salam. Saya cuma bisa diam, kaget sekaligus terharu,” kenangnya.

Menurut Figa, pengalaman seperti itu menjadi pelajaran berharga tentang keikhlasan dan kepedulian yang tulus.

Selain itu, ia juga mengagumi sistem pengelolaan Masjid Nabawi yang sangat tertata.

Setiap petugas memiliki peran masing-masing, mulai dari penjaga keamanan, pembawa air zam-zam, hingga petugas kebersihan dan penata Al-Qur’an.

“Semua terorganisir dengan baik, jadi jamaah merasa sangat nyaman,” ujarnya.

Selama menjalankan ibadah, Figa mengaku tidak mengalami kendala berarti.

Ia tidak pernah tersesat ataupun mengalami kelelahan berlebih karena terbiasa menjelajah tempat baru.

Bahkan sebagai jamaah termuda, ia justru mendapat banyak perhatian dan bantuan dari jamaah lain.

“Banyak yang bantu, jadi merasa lebih ringan menjalani,” katanya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kunci utama dalam berhaji adalah kesabaran dan ketenangan hati.

“Semua harus dihadapi dengan sabar, jangan mudah panik, dan pasrahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa,” imbuhnya.

Figa juga mengajak generasi muda untuk mulai mempersiapkan diri sejak dini jika ingin menunaikan ibadah haji, salah satunya dengan menabung.

“Mulai dari sekarang. Karena ke depan semua serba teknologi, saya khawatir kalau sudah tua nanti kesulitan mengikuti,” pesannya.(*)