KETIK, PACITAN – Peristiwa kematian hewan ternak massal di Kabupaten Pacitan mendapat sorotan dari DPRD setempat. 

Ketua Komisi II DPRD Pacitan, Rudi Handoko meminta kejadian tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi total efektivitas berbagai program kesehatan hewan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan.

Peristiwa kematian ternak secara beruntun dalam waktu singkat perlu ditelusuri secara menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui dengan pasti.

"Menurut saya ini menjadi bahan evaluasi. Kalau tidak salah dulu juga ada program dari DKPP terkait vaksin dan sebagainya. Kalau sampai masih ada kejadian seperti ini tentunya kita harus mengetahui lebih detail bagaimana program itu berjalan dan bagaimana masyarakat bisa menerima program tersebut," kata Rudi Handoko, Selasa, 9 Juni 2026.

Rudi menilai upaya pencegahan penyakit ternak tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga memerlukan kesadaran peternak dalam menerapkan standar pemeliharaan yang baik.

Baca Juga:
MBG untuk Bumil-Balita Belum Merata, Pacitan Minta BGN Tambah Dapur SPPG di Wilayah 3T

Menurutnya, kondisi kandang yang bersih dan memenuhi standar kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah munculnya penyakit pada hewan ternak.

"Sehingga yang dinamakan kandang bersih atau kandang yang berstandar juga diperlukan," ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan kesehatan hewan harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar program-program kesehatan hewan yang dijalankan pemerintah dapat diterima dan diterapkan secara optimal oleh para peternak.

Baca Juga:
2.121 Unit BSPS Pacitan 2026 Mulai Dibangun, Masuki Tahap Distribusi Material

"Ini membutuhkan kerja sama antara DKPP, perangkat desa, dan juga tokoh masyarakat sehingga program-program dari DKPP yang berkaitan dengan kesehatan hewan benar-benar menjadi prioritas bersama," katanya.

Sementara itu, penyebab kematian delapan ternak tersebut hingga kini masih belum diketahui secara pasti. 

DKPP Pacitan telah mengambil sampel dari ternak yang mati dan mengirimkannya ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Yogyakarta, untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Rudi meminta masyarakat bersabar menunggu hasil resmi dari laboratorium sebelum menarik kesimpulan terkait penyebab kematian ternak tersebut.

"Terkait identifikasi sebenarnya ini penyakit apa tentunya kita masih menunggu hasil dari BBVet Yogyakarta," jelasnya.

Meski demikian, DPRD berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah antisipasi agar kasus serupa tidak meluas ke wilayah lain di Kabupaten Pacitan.

Menurut Rudi, para peternak perlu terus diingatkan mengenai pentingnya menjaga kesehatan ternak, kebersihan kandang, serta memanfaatkan layanan kesehatan hewan yang disediakan pemerintah.

"Kami berharap ada antisipasi di daerah lain. Jangan sampai ini juga berdampak ke wilayah lain yang banyak peternaknya. Masyarakat perlu mewaspadai kondisi kandang, kesehatan hewan, dan memanfaatkan DKPP sebagai pihak yang memiliki kewenangan memberikan informasi, sosialisasi, dan tindakan terkait kesehatan hewan," tegasnya.

Sebelumnya, DKPP Pacitan melaporkan kematian lima ekor sapi dan tiga ekor kambing di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, dalam kurun waktu sekitar 10 hari terakhir.

Hingga Selasa, 9 Juni 2026, pihaknya menyebut belum terdapat laporan tambahan mengenai kematian ternak. 

DKPP juga menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium dari BBVet Wates masih belum keluar.

"Hari ini tadi kami konfirmasi ke BBVet, hasilnya belum keluar," ungkap Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso.(*)