Indonesia Bidik Status Pusat Keuangan Dunia, Prabowo Siapkan IIFC di Bali

23 Juli 2026 20:47 23 Jul 2026 20:47

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Indonesia Bidik Status Pusat Keuangan Dunia, Prabowo Siapkan IIFC di Bali

Ilustrasi Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta yang membahas percepatan pembentukan Indonesia International Financial Center (IIFC) di Bali, Kamis, 23 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres)

KETIK, JAKARTA – Pemerintah Indonesia membidik status sebagai salah satu pusat keuangan dunia melalui pembentukan Indonesia International Financial Center (IIFC) yang akan dikembangkan di Bali.

Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan realisasi proyek strategis tersebut sebagai langkah memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan investasi global.

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memimpin rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang juga Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan pembentukan IIFC telah memperoleh landasan hukum setelah undang-undangnya disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Rencana pelaksanaan dari Indonesia International Financial Center yang memang alhamdulillah undang-undangnya sudah disetujui oleh DPR dan Bapak Presiden minta itu segera ditindaklanjuti. Memang rencananya itu akan dibuat di Bali," ujar Rosan.

Menurut Rosan, pemerintah menargetkan IIFC menjadi pusat jasa keuangan bertaraf internasional yang mampu menarik investor global, termasuk pengelola family office dari berbagai negara.

Ia mengungkapkan, saat berkunjung ke Bali beberapa hari lalu, dirinya bertemu dengan 11 investor yang memberikan respons positif terhadap rencana pembangunan pusat keuangan internasional di Indonesia.

"Responsnya sudah sangat-sangat positif mengenai keberadaan financial center yang akan ada di Indonesia ini," katanya.

Meski Bali diproyeksikan menjadi lokasi utama IIFC, pemerintah akan memulai operasional pusat keuangan tersebut di Jakarta selama masa transisi.

Tahap ini diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga tahun sambil menyiapkan infrastruktur, kelembagaan, dan tata kelola yang dibutuhkan.

"Mungkin di masa transisi ini, dalam dua atau tiga tahun ke depan akan dibuat dulu di Jakarta sebelum nanti lebih dikembangkan, bisa di Jakarta dan juga di Bali," ujar Rosan.

Pemerintah juga telah menyiapkan gedung operasional di Jakarta untuk mendukung implementasi awal IIFC.

Sementara itu, BPI Danantara akan bertindak sebagai pengembang kawasan, sedangkan pengelolaan pusat keuangan akan dilakukan oleh pimpinan kawasan dan seorang governor yang bertugas membangun sistem operasional secara menyeluruh.

Kehadiran Indonesia International Financial Center diharapkan mampu meningkatkan daya saing nasional dalam sektor jasa keuangan, memperluas akses pembiayaan, serta menarik arus modal internasional ke Indonesia.

Jika terealisasi sesuai rencana, IIFC akan menjadi tonggak baru bagi Indonesia untuk bersaing dengan sejumlah pusat keuangan global di kawasan Asia, sekaligus memperkuat posisi Bali tidak hanya sebagai destinasi pariwisata dunia, tetapi juga sebagai pusat bisnis dan investasi internasional.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rabowo Subianto Rosan Roeslani Indonesia Financial Financial Center Pulau Bali kota jakarta Bpi Danantara Investasi Global Family Office Pusat Keuangan Kabinet Merah Ekonomi Indonesia Berita Bali Info Bali