KETIK, SURABAYA – Pagi itu, suasana di Terminal Kertajaya Mojokerto sudah terasa sibuk bahkan sebelum bus TransJatim datang. Barisan penumpang tampak mengular, perlahan memanjang hingga pintu halte. Beberapa orang berdiri sambil sesekali melangkah maju.
Di antara mereka, ada pekerja dan mahasiswa dengan tas ransel hingga penumpang transit yang baru saja turun dari koridor lain dan bergegas mencari posisi di barisan.
Kepadatan di titik ini terasa wajar. Terminal Kertajaya merupakan titik awal keberangkatan koridor 2, jurusan Mojokerto-Surabaya. Banyak penumpang memilih naik dari sini agar bisa mendapatkan tempat duduk lebih awal sebelum bus terisi penuh di halte-halte berikutnya. Namun, di sisi lain, tingginya jumlah penumpang justru membuat antrean semakin panjang dan waktu tunggu terasa lebih lama.
Saat bus akhirnya tiba, antrean bergerak maju sebagian tampak terburu-buru agar tidak kehabisan tempat duduk. Di dalam bus, kursi-kursi perlahan terisi menyisakan beberapa ruang berdiri bagi penumpang yang datang belakangan.
Memasuki perjalanan menuju Kota Pahlawan, jumlah penumpang di dalam bus tidak langsung berkurang signifikan. Beberapa memang turun di halte-halte sebelumnya dan biasanya lebih banyak di Terminal Krian, tetapi kepadatan baru benar-benar terasa berubah saat bus tiba di Halte Dukuh Menanggal.
Baca Juga:
Menahan Nafsu Makan, Menikmati Roti Sembunyi-Sembunyi hingga 10 Menit Waktu Berbuka PuasaSaat tiba di halte dekat Bundaran Waru itu, pintu bus terbuka dan penumpang mulai turun dalam jumlah cukup banyak. Halte ini menjadi penurunan pertama di wilayah Surabaya, sekaligus akses menuju pusat kota. Tak heran jika banyak yang memilih turun di sini untuk melanjutkan perjalanan.
Arus tidak berhenti di situ. Di saat sama, antrean penumpang di halte sudah menunggu untuk naik. Mereka berdiri rapi, sebagian memperhatikan kondisi di dalam bus, berharap ada cukup kursi kosong setelah penumpang sebelumnya turun. Momen ini menjadi semacam “pergantian gelombang” yang turun digantikan oleh yang naik.
Jika pada pagi hari antrean panjang terlihat di titik keberangkatan, suasana serupa juga terasa saat arus pulang. Bagi saya, Halte Dukuh Menanggal menjadi titik yang cukup menentukan. Di halte ini, peluang mendapatkan tempat duduk jauh lebih besar sehingga saya lebih memilih menunggu di sini.
Baca Juga:
Warga Kota Malang Bersiap! Usulan Koridor Baru Trans Jatim Bakal Hubungkan Suhat, Blimbing, hingga Kabupaten MalangMenjelang sore hari, sekitar pukul 14.30 WIB, suasana di halte ini perlahan berubah menjadi semakin ramai. Antrean penumpang mulai memanjang, dipenuhi wajah-wajah lelah setelah seharian beraktivitas. Sebagian berdiri sambil menatap jalan, berharap bus segera datang, sementara yang lain sesekali melirik ponsel untuk memastikan posisi bus.
Kepadatan ini terasa semakin meningkat pada hari Jumat. Jumlah penumpang cenderung lebih banyak dibanding hari lainnya. Banyak mahasiswa yang memilih pulang kampung menjelang akhir pekan, membawa tas yang lebih besar dari biasanya. Di dalam bus, ruang gerak menjadi semakin terbatas, dan kursi hampir selalu terisi penuh sejak awal perjalanan.
Dari antrean panjang di titik keberangkatan hingga padatnya penumpang saat arus pulang, perjalanan ini menggambarkan bagaimana mobilitas masyarakat terus bergerak tanpa henti, membentuk ritme harian yang berulang di setiap halte dan sepanjang rute perjalanan. (*)