KETIK, SURABAYA – Kebiasaan tidur larut setelah salat tarawih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat selama bulan Ramadan. Perubahan jam aktivitas ini dinilai dapat memengaruhi kondisi fisik jika tidak diimbangi dengan pola istirahat yang cukup. Pemerintah pun mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan di tengah padatnya aktivitas ibadah.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu tidur selama menjalankan ibadah puasa. Perubahan jadwal makan dan bangun lebih awal untuk sahur membuat tubuh membutuhkan penyesuaian agar tetap bugar sepanjang hari.
Dalam imbauannya, Kemenkes menyarankan agar masyarakat tidak terlalu sering begadang usai tarawih tanpa alasan penting. Waktu tidur malam sebaiknya diatur lebih awal agar tubuh mendapatkan istirahat cukup sebelum bangun sahur.
“Selama Ramadan, pola hidup berubah. Masyarakat dianjurkan menyesuaikan waktu tidur agar tetap memperoleh istirahat yang cukup, sehingga tidak mudah lelah dan tetap produktif saat berpuasa,” demikian imbauan Kemenkes dalam panduan hidup sehat selama Ramadan.
Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, daya tahan tubuh menurun, hingga memicu keluhan seperti pusing dan lemas saat berpuasa. Karena itu, Kemenkes juga menyarankan masyarakat memanfaatkan waktu siang hari untuk istirahat singkat jika diperlukan.
Selain mengatur pola tidur, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga asupan makanan bergizi saat sahur dan berbuka, serta tetap melakukan aktivitas fisik ringan agar kondisi tubuh tetap prima selama Ramadan.
Dengan mengatur waktu tidur secara bijak, masyarakat diharapkan dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan lebih khusyuk dan tetap menjaga kesehatan. Kemenkes menekankan bahwa puasa yang sehat bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menjaga pola hidup seimbang, termasuk waktu istirahat.(*)
