KETIK, MALANG – Anggota DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, mengenang masa-masa awalnya tinggal di Kota Malang. Ia mengaku langsung jatuh cinta dengan kota ini, terutama dengan toleransi antarwarganya.
Menurut Made, sapaan karibnya, ia telah lama tinggal di Kota Malang. Ia menginjakkan kaki di Malang saat berusia 18 tahun untuk berkuliah.
Tak hanya sibuk dengan kegiatan kampus, Made juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia memang dikenal suka dengan kegiatan sosial kemasyarakatan sejak kecil. Sewaktu SMP, ia aktif dalam kegiatan pramuka dan pencinta alam.
Dari kegiatan sosial ini, Made menemukan nilai-nilai toleransi di Kota Malang. Hal ini, menurutnya, merupakan alasan kuat di balik pilihannya hidup di Kota Malang.
Menurut pria asal Jembrana, Bali, tersebut, selama tinggal di Malang ia tidak pernah mengalami diskriminasi. Meski tergolong minoritas, ia tak pernah mendapat perlakuan tidak baik dari warga lainnya.
"Walaupun saya minoritas Hindu Bali, belum pernah saya mendapat perlakuan yang kurang baik di Kota Malang. Malah orang-orang tidak pernah ada yang menanyakan agamamu apa, dari mana kamu. Artinya, kita yang begitu-begitu sudah selesai. Itu yang membuat saya merasa bahwa Malang menerima saya,” ujar Made.
Di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Tlogomas, Made bahkan dipercaya menjadi ketua RT hingga ketua RW.
"Saya itu di RW 2 Tlogomas. Di RT 1 dulu saya tinggal, penduduknya boleh dikatakan sembilan puluh sembilan persen muslim. Umat Kristen cuma bisa dihitung jari. Kemudian, saya Hindu sendirian, tapi bisa menjadi ketua RT lalu kemudian jadi ketua RW," kata Made.
"Saya Hindu sendirian, ada pondok pesantren di situ, tapi masyarakatnya menginginkan saya menjadi ketua RW," sambungnya.
Pengalaman-pengalaman ini membuat Made kian jatuh hati kepada Kota Malang. Ia menyadari banyak hal yang telah kota ini berikan dalam hidupnya. Ia pun ingin berkontribusi lebih bagi masyarakat melalui politik.
Saat ini, selain sebagai anggota dewan, ia juga terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di masyarakat. Ia juga bergabung dalam panitia perayaan Hari Raya Nyepi tingkat Kota Malang melalui organisasi umat Hindu, untuk memastikan bahwa kegiatan keagamaan umat Hindu terakomodasi dengan baik.
Menurutnya, keberagaman yang saling menghormati dan hidup beriringan adalah kekuatan utama Kota Malang. Tingginya nilai toleransi di masyarakat membuktikan bahwa perbedaan tidak menghalangi kehidupan bersama dan saling mendukung dalam membangun kota. (*)
