KETIK, JAKARTA – Seluruh pekerja yang terjebak dalam ledakan terowongan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Distrik Namchi, Negara Bagian Sikkim, India, akhirnya berhasil ditemukan.
Otoritas setempat memastikan seluruh 25 pekerja yang sempat terjebak dinyatakan meninggal dunia setelah operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung selama empat hari.
Insiden maut tersebut terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026, namun para pekerja diketahui telah terjebak sejak Senin, 20 Juli 2026, setelah ledakan disertai asap pekat dan gas beracun memenuhi area terowongan yang masih dalam tahap pembangunan.
Perusahaan listrik milik negara, National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), menduga ledakan dipicu semburan gas metana yang terperangkap di dalam lapisan batuan pegunungan.
"Secara tragis, seluruh 25 orang tersebut meninggal dunia, dan jenazah mereka berhasil dievakuasi selama operasi berlangsung," demikian pernyataan pihak berwenang.
Baca Juga:
Terowongan PLTA di India Runtuh Akibat Ledakan Gas Metana, 12 Pekerja Tewas dan 13 Masih TerjebakLedakan menghasilkan kepulan asap tebal dan gas beracun yang membuat para pekerja tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Dari total korban jiwa, sebanyak 19 orang diketahui merupakan pekerja dari Patel Engineering Limited yang terlibat dalam proyek pembangunan tersebut.
Operasi pencarian melibatkan berbagai instansi penyelamat dan dilakukan tanpa henti sejak hari pertama kejadian hingga seluruh korban berhasil dievakuasi.
Sebelumnya, tim penyelamat melaporkan sebanyak 12 pekerja ditemukan meninggal dunia, sementara 13 lainnya masih dinyatakan hilang.
Baca Juga:
Cegah Kebakaran, DLH Kota Malang Semprot TPA Supit Urang Pakai Limbah SusuNamun, setelah pencarian intensif dilakukan di area sekitar 1,5 kilometer dari mulut terowongan, seluruh korban akhirnya berhasil ditemukan.
Pasukan Tanggap Bencana Nasional India (NDRF) menyebut lokasi kejadian yang berada jauh di dalam terowongan menjadi salah satu kendala utama dalam proses evakuasi.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, insiden diduga dipicu kebocoran gas metana yang mudah terbakar di dalam terowongan.
Gas tersebut diyakini terlepas dari formasi batuan dan kemudian tersulut percikan api sehingga memicu ledakan.
"Jika penggalian terowongan melepaskannya ke ruang tertutup dan bersentuhan dengan percikan api atau sumber penyulutan lainnya, gas tersebut dapat terbakar atau meledak," ujar seorang pejabat pemerintah setempat.
Meski demikian, otoritas India menegaskan penyebab pasti ledakan masih dalam proses investigasi.
Tim ahli dan geolog saat ini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap lokasi kejadian, termasuk mengevaluasi standar keselamatan kerja yang diterapkan dalam proyek tersebut.
Ketua Menteri Sikkim, Prem Singh Tamang, sebelumnya telah membentuk Tim Investigasi Khusus (SIT) untuk mengusut penyebab insiden dan memastikan adanya langkah pencegahan agar tragedi serupa tidak terulang.
"Kami akan mengambil tindakan berdasarkan temuan tersebut," kata Tamang.(*)