KETIK, SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengeluarkan hasil neracara keuangan terbaru. Neraca keuangan di Jawa Timur dilaporkan mengalami defisit sebesar 1,24 miliar dolar AS pada triwulan pertama 2026.
Statistik Ahli Madya BPS Jawa Timur, Debora Sulistya Rini mengatakan, defisit neraca keuangan ini akibat nilai impor yang melampaui ekspor.
Total nilai impor di Jawa Timur, kata Debora sebesar 7,32 miliar dolar AS. Sedangkan total ekspor hanya sebesar 6,07 miliar dolar AS. Kondisi ini membuat neraca keuangan tertekan di seluruh sektor.
"Defisit terjadi di sektor migas maupun non-migas. Untuk migas defisitnya sebesar 849,84 juta dolar AS. Sedangkan non-migas mencapai 394,30 miliar dolar AS," katanya dalam keterangan resmi pada Selasa, 5 Mei 2026.
Dari sisi ekspor, neraca ekonomi Jawa Timur mengalami kontraksi tipis sebesar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Baca Juga:
Penataan Hunian Surabaya Dipertegas, Pengamat Usulkan Aturan Kos dan Optimalisasi RusunPenurunan itu dipengaruhi melemahnya ekspor non-migas sebesar 0,75 persen dan penurunan signifikan ekspor migas hingga 10,96 persen.
Kendati demikian, beberapa komoditas masih menunjukkan kinerja positif. Ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati tercatat tumbuh 17,64 persen dan menjadi salah satu penopang utama.
Sebaliknya, komoditas perhiasan dan permata mengalami penurunan terdalam hingga 11,60 persen, diikuti produk kayu juga melemah.
Debora menjelaskan penurunan perdagangan ini menunjukkan bahwa Jawa Timur masih tergantung pada bahan baku dan barang modal impor. Hal ini diperkuat dengan dominasi China sebagai mitra dagang utama.
Baca Juga:
Dikebut 2026! Pemkot Surabaya Integrasikan Saluran, Bangun Rumah Pompa hingga Storage Air untuk Tekan Banjir Selatan“Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor sekaligus sumber impor terbesar. Untuk ekspor nonmigas kontribusinya 16,48 persen, sementara impor mencapai 36,27 persen,” jelasnya. (*)