KETIK, PALEMBANG – Aroma asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Palembang. Sejak Rabu 5 Agustus 2026 sore, sejumlah warga di berbagai kawasan mengeluhkan bau asap yang menyengat hingga memicu batuk dan gangguan pernapasan ringan.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah antisipasi terhadap memburuknya kualitas udara.

Salah seorang warga Kecamatan Gandus, Heriyanto (48), mengatakan bau asap mulai terasa sejak sore dan berbeda dibanding hari-hari sebelumnya.

"Sore tadi benar-benar terasa bau asapnya, sampai bikin batuk. Mungkin karena asap kebakaran hutan," ujarnya.

Menurutnya, asap diduga terbawa angin dari wilayah yang sedang mengalami karhutla. Meski belum diketahui secara pasti sumbernya, ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan tidak semakin pekat.

Baca Juga:
Shandi Hermanto Merasa Dikriminalisasi Usai Jadi Tersangka Tragedi Bus ALS Jalan Lintas Muratara

Di tengah munculnya keluhan warga, Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berpotensi meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, mengungkapkan sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat 259.297 kasus ISPA, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 257.935 kasus.

"Setiap musim kemarau selalu ada peningkatan kasus ISPA, ditambah jika disertai karhutla yang menyebabkan asap," katanya.

Meski secara keseluruhan terjadi kenaikan dibanding tahun sebelumnya, tren bulanan menunjukkan penurunan. Pada Januari 2026 tercatat 50.651 kasus ISPA, kemudian turun menjadi 33.582 kasus pada Juni. Namun, menurut Trisnawarman, kondisi tersebut belum dapat dijadikan indikator bahwa ancaman ISPA telah berakhir.

Baca Juga:
[FOTO] Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Palembang serta Ogan Ilir

Pasalnya, data kasus untuk Juli masih dalam proses rekapitulasi, sementara Agustus hingga September merupakan puncak musim kemarau yang berpotensi meningkatkan intensitas kebakaran hutan dan lahan serta memperburuk kualitas udara.

Dinkes Sumsel mencatat wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi masih didominasi Kota Palembang sebanyak 85.032 kasus, disusul Muara Enim 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, dan Lahat 13.523 kasus.

Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, mengurangi aktivitas luar ruangan jika tidak mendesak, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Masyarakat jangan menunggu kondisi berat untuk berobat. Jika keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar bisa ditangani lebih cepat," tegas Trisnawarman.

Dengan mulai tercium bau asap di Palembang, masyarakat berharap upaya penanggulangan karhutla dapat dilakukan secara maksimal agar kabut asap tidak kembali menjadi bencana tahunan yang mengancam kesehatan dan aktivitas warga Sumatera Selatan.(*)