Gethuk Pisang Bu Safa, Kuliner Legendaris Kediri yang Tetap Bertahan dengan Cita Rasa

Editor: Muhammad Faizin

7 Feb 2026 10:31

Thumbnail Gethuk Pisang Bu Safa, Kuliner Legendaris Kediri yang Tetap Bertahan dengan Cita Rasa
Gethuk Pisang Bu Safa, salah satu merek yang menjadi ikon kuliner khas Kediri. (Foto: Shilfina Hidayah for Ketik.com)

KETIK, KEDIRI – Gethuk pisang masih bertahan sebagai salah satu ikon kuliner khas Kediri hingga hari ini. Di balik cita rasanya yang legit dan aroma pisang yang khas, ada sosok Ibu Safa (47), warga Desa Badal, yang setia menekuni usaha gethuk pisang sejak 2002. Perempuan kelahiran Kediri ini dikenal sebagai pelaku usaha yang konsisten menjaga kualitas rasa di tengah gempuran perubahan selera dan tren kuliner.

Proses pembuatan gethuk pisang terbilang tidak singkat. Pisang raja nangka harus dikukus selama kurang lebih delapan jam hingga benar-benar matang. Setelah itu, pisang digiling saat masih panas lalu langsung dicetak di atas daun pisang. Cara tradisional ini diyakini mampu mempertahankan tekstur lembut sekaligus cita rasa autentik gethuk pisang Kediri. Dengan proses tersebut, gethuk pisang dapat bertahan hingga tiga hari tanpa mengalami perubahan rasa.

Pada awal merintis usaha, gethuk pisang menjadi sumber penghasilan utama bagi Bu Safa. Setiap malam, sekitar pukul 22.00 WIB, sepulang berjualan cenil, klepon, dan aneka jajanan pasar lainnya, ia kembali bekerja dengan mengukus pisang untuk produksi gethuk keesokan harinya. Kerja keras itu membuahkan hasil. Pada masa kejayaannya, Bu Safa mampu mempekerjakan hingga 10 orang dengan kapasitas produksi mencapai ribuan biji per hari.

Namun, kondisi tersebut mulai berubah sejak 2019. Permintaan gethuk pisang menurun cukup drastis, diikuti dengan berkurangnya jumlah produksi. Saat ini, Bu Safa hanya mampu memproduksi sekitar 600 hingga 700 biji per hari. Ketersediaan bahan baku pun tak lagi semudah dulu. Jika sebelumnya ia memiliki pemasok tetap yang sanggup menyuplai pisang hingga satu mobil pikap, kini pisang dan daun pisang harus ia peroleh sendiri dari pasar.

Baca Juga:
Bisikan Perjamuan Terakhir Masuk Empat Terbaik Festival Film di Prancis

Meski demikian, gethuk pisang produksi Bu Safa tetap memiliki pasar tersendiri. Distribusinya menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Ngadiluwih, Nggringging, hingga Nganjuk. Tak sedikit pula pihak yang datang untuk sekadar melihat proses produksi atau mewawancarainya terkait usaha kuliner tradisional tersebut.

Menurut ibu tiga anak ini, tantangan terbesar saat ini terletak pada pemasaran serta semakin banyaknya pesaing. “Memang keluarga kami banyak yang bisa membuat gethuk. Dulu pemasarannya masih enak karena gethuk pisang ini khas Kediri, jadi banyak yang tertarik. Sekarang ya kendalanya di pemasaran,” ujarnya sambil tertawa kecil saat ditemui Ketik.com beberapa waktu lalu. 

Untuk harga, gethuk pisang Bu Safa dijual bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp8.000 per biji, tergantung ukuran. Ia berharap usaha yang telah dirintis puluhan tahun itu kembali ramai peminat. Di tengah maraknya tren kuliner yang mengedepankan tampilan, Bu Safa menilai rasa seharusnya tetap menjadi yang utama. “Wong sekarang ini lomba gedhe-gedhe-an, kalau rasa belum tentu,” tuturnya dengan logat khas Kediri.

Baca Juga:
Perjuangan Balita 3 Tahun di Probolinggo Lawan Penyakit Langka Atresia Bilier, Butuh Transplantasi Hati
Baca Sebelumnya

The Alana Hotel Malang Luncurkan Menu Buka Puasa “Jelajah Rasa dari Timur ke Barat”

Baca Selanjutnya

Asda ll Lebak Lepas Komunitas ID42NER Chapter Banten dalam Kegiatan Saba Budaya Baduy dan Bakti Sosial

Tags:

gethuk pisang kuliner khas Kediri Bu Safa

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

12 April 2026 09:40

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

12 April 2026 08:21

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

11 April 2026 07:30

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

10 April 2026 06:40

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar