KETIK, YOGYAKARTA – Matematika kerap dianggap sebagai pelajaran paling menakutkan bagi banyak siswa di Indonesia. Namun, persoalannya bukan semata karena mata pelajaran ini sulit. Ada faktor mendasar yang membuat siswa enggan dan kesulitan memahami matematika.
Guru Besar Departemen Matematika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti, menegaskan bahwa metode pembelajaran menjadi salah satu kunci utama.
Ia menilai, pendekatan yang masih berorientasi pada hafalan membuat proses belajar terasa membosankan dan tidak membangun pemahaman konsep. Akibatnya, siswa tidak terbiasa berpikir kritis dan logis.
Untuk mengatasi hal tersebut, Indah menekankan pentingnya kemampuan komunikasi guru dalam menyampaikan materi. Ia menyarankan pengajar mengadopsi pendekatan klasik ala Aristoteles.
Baca Juga:
Skor PISA 366, Alarm Keras Kemampuan Matematika Siswa Indonesia“Jika seorang guru mencintai matematika dan bisa berkomunikasi dengan baik menggunakan prinsip-prinsip Aristoteles, yakni menjaga kredibilitas (ethos), membangun ikatan emosional (pathos), serta menyampaikan materi secara logis (logos), maka dia akan mempunyai kreativitas dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan menyenangkan,” ungkapnya, Senin, 20 April 2026.
Selain faktor sekolah, peran keluarga juga sangat menentukan. Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama anak mengenal pola berpikir, termasuk logika dan kemampuan numerasi.
Indah menjelaskan bahwa masa emas (golden age) pada usia 0–5 tahun menjadi periode penting untuk menstimulasi kemampuan berpikir anak. Pola asuh yang memberi ruang bertanya, berdiskusi, dan bereksplorasi akan memperkuat logika sejak dini.
“Dari sini kita lihat bahwa antara pola asuh keluarga, lembaga pendidikan, serta lingkungan harus sejalan. Jadi, setelah memasuki usia sekolah dan bermasyarakat, lembaga pendidikan idealnya meneruskan kebiasaan tersebut agar potensi anak terus berkembang,” ujarnya.
Baca Juga:
Bukan Soal Uang, Ini Penyebab Pola Makan Buruk dan Lonjakan Penyakit di Usia MudaIa juga menawarkan sejumlah solusi konkret. Mulai dari seleksi ketat calon guru, jaminan kesejahteraan pengajar, hingga kebebasan bagi guru untuk berkreasi di kelas. Selain itu, kurikulum matematika perlu disusun secara realistis dan sesuai dengan perkembangan siswa.
“Saya yakin, ketika ekosistem sudah ideal dan satu visi, maka dampak positifnya adalah kenaikan kemampuan siswa di bidang matematika. Sebaliknya, sebagus apapun metode pembelajaran yang diterapkan namun belum didukung ekosistem yang baik, maka hasilnya tidak akan sesuai,” tutupnya.