KETIK, TUBAN – Layanan produksi makan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidorejo 2 di jalan Dr Wahidin Sudirohusodo nomor 22 Tuban dikeluhkan penerima manfaat. Pasalnya, menu santap berupa sop dan jagung yang dibagikan kepada satuan pendidikan dalam kondisi sudah basi, Rabu 20 Mei 2026 kemarin.
"MBG-nya anak saya hari kemarin Rabu menu sop kecut, isi jagung masih belum matang. Untung tak cicipi dulu," ungkap Angel (26) warga Tuban kota kepada wartawan, Kamis 21 Mei 2026.
Ia mengaku kecewa lantaran menu disajikan dapur SPPG Sidorejo 2 Tuban tidak sesuai harapan. Meski sebelumnya ada himbauan petugas dapur MBG untuk melarang setiap kejadian di unggah atau keluar ke eksternal pendidikan.
"Kalau obrolan emak-emak di WA. Sebagian dapur di Tuban melarang wali murid untuk mengunggah ke medsos setiap kejadian pada distribusi MBG. Ini terjadi tidak di kota kota Tuban sebagian kecamatan juga gitu," timpal wali murid lainnya.
Anggel menilai layanan SPPG harusnya menjaga kualitas dan kuantitas. Padahal, mitra dapur kala launching peresmian dapur dihadiri Kepala Kesbangpol Tuban, Forkompimcam Tuban Kota dan Lurah Sidorejo.
"infonya saat peresmian mengundang pejabat Pemkab Tuban, tapi menunya tidak dijaga kualitas dan kuantitasnya," sambung Angel dengan kepala geleng-geleng.
Wali murid lain, Ummi, nama samaran, mengaku kecewa karena menu yang disajikan SPPG Sidorejo 2 ala kadarnya. Apalagi anaknya saat ini duduk di Taman Kanak-kanak, jadi menu itu seharusnya benar-benar matang dan menyehatkan.
"Kalau menu makanan saja belum matang masaknya, terus nanti kalau anak-anak terjadi kenapa-kenapa gimana," tuturnya.
Wali murid pun meminta agar pihak-pihak terkait segera mengevaluasi dapur ini. Tujuannya, agar ke depan ada perbaikan dan tidak membahayakan bagi siswa. Bila menu yang kualitasnya menurun ini tidak ada evaluasi makan bisa berbahaya untuk siswa.
"Kami minta pemkab atau pihak berwenang segera mengevaluasi dapur SPPG Sidorejo 2 ini. Agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Pokoknya jangan sampai ada keracunan," pintanya.
Terpisah, Korwil Tuban Aulia Rizki belum memberikan respons saat dimintai konfirmasi. Hingga berjalanya progam MBG setahun lebih, dia dikenal alergi terhadap media sehingga enggan memberikan respons terhadap persolan lemahnya pengawasan distribusi MBG yang dilakukan jajaran Kapokcam.
Bahkan berdasarkan sumber internal SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) yang merupakan tim pengawal dan mengoordinasikan program MBG maupun mitra yayasan dapur menyebutkan bahwa sikap korwil memang alergi terhadap media.
"Tidak ada yang berani bantah pak, sama korwil kalau bantah khawatir kita di pindah/ mutasi. Tapi memang gitu anaknya," ucap sumber internal tersebut.
Selain itu, sumber lain menyebutkan sebagian wilayah di kabupaten Tuban dengan sasaran rentan stunting yakni Balita ibu hamil, ibu menyusui (3B) belum dibagi atau belum terima MBG. "Bagaimana mau bagi penerima manfaat 3B kalau kapokcam masih pegang jadi kepada dapur SPPG," tutupnya.
Sebagai informasi, SPPG Sidorejo 2 Tuban diresmikan pada Desember 2025. Peresmian telah dihadiri perwakilan yayasan, tokoh masyarakat, serta jajaran unsur Forkopimcam Kecamatan Tuban diantaranya, Kapolsek Tuban, Danramil Tuban, Camat Tuban, Kepala Kantor Kesbangpol Tuban, Lurah Sidorejo, Babinsa Sidorejo, dan Bhabinkamtibmas Sidorejo.(*)
