KETIK, TUBAN – Persiapan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto di Dusun Bribin, Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, menyisakan keresahan bagi para pesanggem atau penggarap lahan hutan milik Perhutani. Lahan pertanian yang selama ini digarap warga mendadak diratakan, pohon jati ditebang, dan area ditimbun menggunakan semen reject dari SIG untuk kebutuhan parkir hingga helipad alternatif.
Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan petak 57e Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Merakurak, BKPH Merakurak, KPH Tuban Perhutani Jawa Timur. Sebelumnya, area itu merupakan lahan pertanian yang ditanami kacang tanah oleh warga penggarap.
Namun, menjelang agenda kunjungan Presiden pada Sabtu,16 Mei 2026, kawasan tersebut berubah drastis menjadi lapangan terbuka. Sejumlah pohon jati ditebang dan diangkut menggunakan kendaraan, sementara tanah dipadatkan dengan material semen reject.
Pantauan di lokasi pada Jumat, 15 Mei 2026 siang, dua alat berat masih tampak beroperasi di bawah tegakan pohon jati. Kendaraan pemadam kebakaran juga terlihat di lokasi untuk melakukan pembasahan lahan yang disiapkan sebagai area parkir. Tak jauh dari lokasi, tenda besar untuk acara seremonial telah berdiri.
Selain perubahan pada area hutan, akses jalan menuju lokasi kegiatan panen raya jagung kuartal II tahun 2026, groundbreaking 10 gudang ketahanan pangan, serta peluncuran operasional 166 SPPG MBG juga tampak mulus setelah dilakukan pengaspalan baru.
Senior Manager Corporate Communication SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, membenarkan adanya bantuan material semen reject tersebut. Menurutnya, bantuan diberikan atas permintaan pihak kepolisian.
“Permintaan bantuan dari Polres berupa semen reject. Totalnya belum dihitung,” ujarnya.
Di tengah persiapan tersebut, para pesanggem mengaku kecewa karena tidak dilibatkan maupun diberi pemberitahuan sebelumnya. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat, Jaswadi, mengaku baru dipanggil setelah lahan garapannya diratakan alat berat.
“Di awal saya tidak dilibatkan. Saya diundang ketika lahan garapan saya sudah diratakan menggunakan alat berat. Sebenarnya saya juga kaget, kok seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, ini juga lahan milik negara Perhutani,” ucapnya.
Jaswadi mengaku bingung harus mengadu ke mana untuk meminta ganti rugi. Ia menyebut sebelumnya telah mengeluarkan biaya untuk membeli batu umpak sebagai penahan tanah agar tidak hanyut saat hujan. Namun kini seluruh material tersebut hilang tertimbun timbunan tanah.
“Kemarin sudah saya belikan batu umpak untuk penahan tanah agar tidak hilang saat hujan. Sekarang semua batu yang sudah saya tata hilang dan lahan diratakan,” katanya.
Ia berharap ada perhatian terhadap nasib warga kecil yang terdampak persiapan kunjungan orang nomor satu di Republik Indonesia tersebut.
“Saya sebagai orang kecil bingung harus mengadu ke siapa nantinya. Minimal ada ganti untuk beli batu umpak lagi,” pungkasnya.
